Taliban Serahkan Uang Tunai Rp 175 M dan Emas ke Bank Sentral Afghanistan

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, JakartaTaliban menyerahkan uang tunai sebesar US$ 12,3 juta atau sekitar Rp 175 miliar dan emas ke Bank Sentral Afghanistan, Da Afghanistan Bank. Uang tunai dan emas batangan yang diserahkan itu adalah hasil sitaan dari rumah mantan pejabat dan bekas kantor badan intelijen Afghanistan.

    "Pejabat Imarah Islam Afghanistan telah menyerahkan aset ke perbendaharaan nasional. Ini membuktikan komitmen mereka terhadap transparansi," menurut pernyataan resmi dari bank sentral Afghanistan.

    Setelah mengambil alih ibu kota Kabul pada 15 Agustus 2021, Taliban mengumumkan pembentukan pemerintahan sementara pada 7 September 2021. Dalam pemerintahan sementara itu ditunjuk beberapa pejabat menteri dan pejabat gubernur bank sentral Afghanistan.

    Sejak mengambil alih Afghanistan, Taliban juga memegang kendali atas bank sentral. Dalam sebuah tweet dari bank sentral, tampak seorang pria digambarkan tampak menghitung tumpukan uang tunai.

    Saat ini sejumlah bank di Afghanistan telah kehabisan dolar dan beberapa di antaranya terancam ditutup. Bank-bank yang bermasalah telah menyampaikan ihwal kekurangan uang tunai kepada Taliban.

    Selanjutnya Taliban meluncurkan penyelidikan terhadap aset-aset mantan pejabat pemerintah sehingga berakibat disitnya sejumlah aset milik pemerintah.

    Mantan Presiden Ashraf Ghani telah dituduh melarikan diri dari Afghanistan dengan membawa uang dolar. Namun Ghani telah membantah tuduhan itu.

    Bank Sentral Afghanistan mengatakan bahwa semua operasional perbankan di bawah pengawasan ketat. Lembaga ini mengklaim perbankan di Afghanistan dalan keadaan aman.

    Baca:  Penjualan Burqa di Afghanistan Laris Sejak Taliban Berkuasa

    XINHUA | DW | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Peringkat Pertama Covid-19 Recovery Index Asia Tenggara: Begini Kondis

    Indonesia berada di peringkat pertama di Asia Tenggara dalam Covid-19 Recovery Index yang dirilis media Jepang. Ada hal yang masih jadi perhatian.