Prancis Incar Komandan Teroris Lainnya Usai Bunuh Pentolan ISIS di Afrika

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anggota teroris. shutterstock.com

    Ilustrasi anggota teroris. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Militer Prancis bersumpah melanjutkan perburuan terhadap kepala-kepala teroris lainnya usai membunuh Adnan Abu Walid al-Sahrawi, kepala ISIS cabang Sahara dan sekitarnya (ISGS). Dikutip dari kantor berita Reuters, Militer Prancis menyebut perburuan perlu dilanjutkan untuk secepat mungkin mengembalikan stabilitas dan keamanan di Afrika, terutama kawasan Sahel, Afrika Barat.

    ISGS, yang berbasis di Burkina Faso dan Nigeria, adalah dalang dari ratusan serangan teror terhadap warga sipil dan militer di Afrika. Serangan mereka berhasil membuat kawasan Sahel di Afrika Barat tidak terurus karena tingginya ancaman teror di sana. Hal itulah yang mendorong operasi kontra-terorisme Prancis.

    "Kematian Sahrawi adalah pukulan telak untuk ISGS dan komplotannya," ujar Menteri Angkatan Bersenjata Prancis, Florence Parly, Kamis, 16 September 2021.

    Parly melanjutkan, meski Sahrawi telah meninggal, ISGS tidak bisa dianggap remeh. ISGS, kata ia, masih memiliki ratusan anggota yang mampu melakukan serangan teror sewaktu-waktu di Afrika. Adapun Nigeria ia prediksi masih akan tetap menjadi target serangan teror favorit.

    "Kami belum mendapat informasi apapun soal siapa penerus Sahrawi. Namun, kami yakini tak akan mudah menemukan pimpinan yang mampu memberikan pengaruh sama besarnya dengan Sahrawi," ujar Parly.

    Kepala Agensi Intelijen Eksternal Prancis, Bernard Emie, mengatakan bahwa fokus Prancis sekarang adalah menghentikan Iyad Ag Ghaly. Ghaly, kata Emie, adalah kepala cabang Al-Qaeda di Afrika yang bertanggung jawab atas serangan teror di Pantai Gading dan Senegal.

    Sama seperti Parly, Emie menyakini kematian Sahrawi hanya akan menghentikan sementara aktivitas kelompok teror di Afrika.

    Diberitakan sebelumnya, Prancis berhasil melacak keberadaan Sahrawi dan kemudian membunuhnya di Mali pada pertengahan Agustus lalu. Prancis menghajarnya dengan serangan drone ketika Sahrawi tengah mengendarai motor di Mali.

    Bersama ISGS, Sahrawi memerintahkan berbagai serangan teror. Pada tahun 2017, misalnya, ia memerintahkan serangan teror kepada Militer Amerika. Selain itu, pada Agustus 2020, ia memerintahkan pembunuhan enam pekerja amal Prancis dan warga Nigeria yang menjadi sopir mereka.

    Total, korban serangan kelompok teroris pimpinan Sahrawi diperkirakan mencapai 3000 orang di mana kebanyakan dari mereka adalah Muslim.

    Baca juga: Pasukan Prancis Tewaskan Pimpinan Islamic State di Shara

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Peringkat Pertama Covid-19 Recovery Index Asia Tenggara: Begini Kondis

    Indonesia berada di peringkat pertama di Asia Tenggara dalam Covid-19 Recovery Index yang dirilis media Jepang. Ada hal yang masih jadi perhatian.