227 Orang Meninggal Saat Melindungi Lingkungan Hidup Sepanjang 2020

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas pemadam kebakaran, Brazilian Institute for the Environment and Renewable Natural Resources (IBAMA) melihat lahan yang hangus terbakar dalam kebakaran hutam Amazon di Apui, Negara Bagian Amazonas, Brasil, 11 Agustus 2020. REUTERS/Ueslei Marcelino

    Petugas pemadam kebakaran, Brazilian Institute for the Environment and Renewable Natural Resources (IBAMA) melihat lahan yang hangus terbakar dalam kebakaran hutam Amazon di Apui, Negara Bagian Amazonas, Brasil, 11 Agustus 2020. REUTERS/Ueslei Marcelino

    TEMPO.CO, Jakarta - Di luar 4 juta lebih orang yang meninggal karena COVID-19, ada 227 orang yang meninggal karena berusaha melindungi lingkungan hidup. Hal itu terungkap dalam laporan terbaru yang dikeluarkan lembaga pengawas lingkungan dan hak asasi manusia, Global Witness, Senin, 13 September 2021.

    Dikutip dari CNN, Global Witness mengumpulkan data berbagai kasus penyerangan atau pembunuhan terhadap aktivis atau pejuangan lingkungan hidup. Dari data-data yang dikumpulkan, rata-rata empat orang meninggal per pekan saat melindungi lingkungan.

    Kebanyakan kasus terjadi di Amerika Latin. Kolombia adalah adalah negara dengan jumlah korban terbanyak, 65 orang. Mayoritas dari korban adalah aktivis yang mencoba melindungi lahan pribumi beserta perkebunan coca mereka. Sementara itu, Meksiko berada di urutan berikutnya dengan 30 korban yang tewas saat melawan deforestasi.

    Filipina adalah satu-satunya negara di luar Amerika yang mencatatkan puluhan kasus kematian. Tahun lalu, ada 29 aktivis dan pejuang lingkungan hidup yang mati di Filipina. Kebanyakan dari mereka tewas saat mencoba menahan proyek pertambangan, penebangan liar, serta waduk.

    "Apabila angka di ketiga negara digabungkan, mereka mewakili separuh dari total kasus sepanjang 2020m," ujar Global Witness, dikutip dari CNN.

    Angka 227 itu juga merupakan rekor terbaru. Di tahun 2019, ada 212 orang yang meninggal saat melindungi atau memperjuangkan lingkungan hidup.

    Keluarga korban berkata, pandemi yang melanda dunia sepanjang 2020 menjadi penyebab utama kenapa angka tahun ini lebih tinggi. Serangan-serangan dilakukan kepada aktivis yang berlindung dari pandemi di rumah. Dengan kata lain, mereka terlindungi dari COVID-19, tetapi tidak oleh orang-orang suruhan pemerintah atau pengusaha yang hendak mengeksploitasi alam.

    "2020 seharusnya menjadi tahun di mana dunia ini bertahan, namun mereka yang berjuang untuk planet bumi malah menjadi tidak aman," ujar salah satu peneliti Global Witness, Chris Madden.

    "Sangaty jelas bahwa eksploitasi tak bertanggung jawab dan keserahakan yang mendorong krisis iklim juga berdampak pada keselamatan warga," ujar Madden menambahkan.

    Global Witness menambahkan, 70 persen dari kasus serangan ditujukan kepada mereka yang mencoba melindungi hutan. Adapun kebanyakan korban meninggal adalah aktivis lingkungan hidup yang melawan penebangan dan pembalakan liar.

    Baca juga: Begini Perubahan Iklim Membuat Hurikan Ida Menjadi Monster di Amerika

    ISTMAN MP | CNN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.