CDC: Warga yang Belum Divaksin Akan 11 Kali Lebih Rentan Mati Karena COVID-19

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atikah Bagawan, mahasiswa asal Indonesia, saat disuntik vaksin Covid-19 di stadion Ford Field, Michigan, Amerika Serikat. (Sumber: Indri Maulidar)

    Atikah Bagawan, mahasiswa asal Indonesia, saat disuntik vaksin Covid-19 di stadion Ford Field, Michigan, Amerika Serikat. (Sumber: Indri Maulidar)

    TEMPO.CO, Jakarta - Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika (CDC) mengatakan bahwa mereka yang belum divaksin akan 11 kali lebih rentan tertular dan mati karena COVID-19. Hal itu mereka ungkapkan dalam studi yang dirilis ke publik pada Jumat kemarin.

    Dikutip dari CNN, kesimpulan itu diambil usai CDC mempelajari 600 ribu kasus COVID-19 di 13 negara bagian dari April - Juli.

    "Intinya, kita sudah memiliki perangkat ilmiah yang bisa kita gunakan untuk menghentikan pandemi ini. Vaksinasi terbukti efektif dan akan melindungi kita dari implikasi COVID-19," ujar Direktur CDC, Rochelle Walensky, pada Jumat kemarin, 10 September 2021.

    Per berita ini ditulis, ada 75 juta warga Amerika yang belum divaksin. Hal itu menyebabkan angka kasus COVID-19 harian di Amerika naik sepanjang Agustus kemarin walaupun tidak setinggi puncaknya di bulan Januari 2021. Adapun secara nasional Amerika memiliki 41 juta kasus, 677 ribu kematian, dan angka kasus per hari di atas 150 ribu akibat COVID-19.

    Masih tingginya angka kasus per hari di Amerika menyebabkan berbagai rumah sakit kelimpungan menerima pasien. Beberapa pakar pun memprediksi angka kasus akan melonjak pada musim gugur nanti.

    Petugas medis mempersiapkan vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech yang akan disuntikan pada warga. Di Alaska, Amerika Serikat, seorang petugas medis menderita reaksi alergi serius setelah disuntik vaksin Covid-19 Pfizer/BioNTech. REUTERS/Gonzalo Fuentes

    "160 ribu kasus per hari bukan hal yang kami inginginkan. Sayangnya, itu situasi Amerika sekarang," ujar Penasihat Medis Pemerintah Amerika dan Direktur Institute Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular, Anthony Fauci. Idealny, menurut Fauci, Amerika mencatatkan 10 ribu kasus per hari untuk masuk ketegori terkendali.

    Pemerintah Amerika sudah merespon angka kasus yang masih tinggi dengan menguatkan kebijakan vaksinasi. Presiden Joe Biden membuat rencana baru di mana pekerja federal hingga pekerj amedis wajib divaksin. Jika sukses, hal itu akan mengcover 100 juta warga Amerika.

    "Kami sudah cukup sabar, namun kesabaran kami ada batasnya. Kengganan kalian untuk divaksin merugikan kami semua," ujar Joe Biden terhadap warga Amerika yang masih ogah menerima vaksin COVID-19, baik karena faktor keyakinan ataupun keraguan atas efikasi vaksin.

    Saat ini, Amerika menggunakan vaksin COVID-19 dari Moderna, Pfizer, dan Johnson&Johnson. Dari ketiga vaksin itu, Moderna memiliki efikasi paling tinggi, tak terkecuali pada varian Delta COVID-19 yang lebih mudah menular. Moderna memiliki efikasi 95 persen, Pfizer 80 persen, dan Johnson&Johnson 60 persen atas varian Delta COVID-19 menurut CDC Amerika.

    Baca juga: Dianggap Bohong Soal Studi Virus Corona di Wuhan, Anthony Fauci Didesak Mundur

    ISTMAN MP | CNN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.