Taliban Larang Perempuan Olahraga, Atlet Sepeda Afghanistan Pindah ke Kanada

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atlet sepeda balap asal Afghanistan, Masomah Ali Zada tengah berlatih untuk tampil di Olimpiade Tokyo di Fuji International Speedway, Shizuoka, Jepang, 28 Juli 2021. REUTERS/Christian Hartmann

    Atlet sepeda balap asal Afghanistan, Masomah Ali Zada tengah berlatih untuk tampil di Olimpiade Tokyo di Fuji International Speedway, Shizuoka, Jepang, 28 Juli 2021. REUTERS/Christian Hartmann

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak 41 pengungsi Afghanistan tiba di Uni Emirat Arab sebelum melanjutkan perjalanan ke Kanada. Mereka memilih mengungsi dari negaranya untuk menghindari Taliban yang kini menjadi penguasa Afghanistan.

    Di antara para pengungsi adalah atlet sepeda putri yang minta namanya dirahasiakan untuk alasan keamanan. Dia mengatakan kepada CNN takut menjadi atlet wanita di Afghanistan setelah Taliban mengambil alih negara itu.

    “Sangat sulit dijelaskan karena alasan utama saya meninggalkan Afghanistan adalah karena saya merasa tidak aman sebagai atlet. Saya berolahraga di Afghanistan, tetapi saat ini sedang tidak aman. Saya terpaksa meninggalkan negara saya,” ujarnya. Ia ingin membuktikan bahwa perempuan juga mampu menjadi atlet.

    Sebelum atlet sepeda wanita tersebut memutuskan pindah ke Kanada, tim nasional sepak bola wanita Afghanistan sudah lebih dulu dievakuasi. Mantan asisten pelatih wanita Afghanistan Haley Carter mengatakan kelompok ragtag berhasil mengevakuasi 86 atlet, pejabat, dan anggota keluarga warga Afghanistan ke tempat yang aman.

    Carter bekerja sama dengan mantan kapten tim, Khalida Popal, yang juga diwawancara CNN bulan lalu ihwal nasib para atlet wanita yang terjebak di Afghanistan. Popal menjelaskan bagaimana olahraga menjadi saluran dalam perjuangan berkelanjutan untuk hak-hak perempuan.

    “Dulu kami latihan, ada lomba. Dulu kami bahkan bertanding dengan anak laki-laki, dan senang,” katanya. “Namun saat ini, sangat mengecewakan. Sungguh menyakitkan bagi kami melihat bahwa para gadis tidak akan diizinkan (berolahraga).”

    Taliban melarang wanita berolahraga karena pakaian mereka akan lebih terbuka. Sulit mengenakan burqa saat berolahraga.

    Ahmadullah Wasiq, wakil kepala komisi budaya Taliban, mengatakan kepada Australia SBS News bahwa perempuan Afghanistan tidak boleh bermain kriket dan olahraga lainnya.

    “Dalam kriket, mereka mungkin menghadapi situasi di mana wajah dan tubuh mereka tidak akan ditutup. Islam tidak mengizinkan wanita untuk dilihat seperti itu,” kata Wasiq.

    “Ini adalah era media, akan ada foto dan video, orang-orang akan menontonnya. Islam tidak mengizinkan wanita untuk bermain kriket atau bermain jenis olahraga yang membuat mereka terpapar.”

    Baca: China Setor Pangan dan Vaksin COVID-19 Senilai 31 Juta Dollar ke Taliban

    AFIFA RIZKIA AMANI | DEWI | CNN | SBS NEWS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ini Daftar Lengkap Hari Libur Nasional dan Catatan Tentang Cuti Bersama 2022

    Sebanyak 16 hari libur nasional telah ditetapkan oleh pemerintah. Sedangkan untuk cuti bersama dan pergesera libur akan disesuaikan dengan kondisi.