Inggris Selidiki Dugaan Pasukan Mereka Bunuh Diri Usai dari Afghanistan

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Pasukan Inggris dari 16 Brigade Serangan Udara terlihat saat tiba di Kabul Afganistan, untuk memberikan dukungan kepada warga negara Inggris yang meninggalkan negara itu, sebagai bagian dari Operasi PITTING, setelah gerilyawan Taliban menguasai istana presiden di Kabul, 15 Agustus 2021.[Leading Hand Ben Shrread/RAF/Kementerian Pertahanan Inggris 2021/Handout via REUTERS]

    Anggota Pasukan Inggris dari 16 Brigade Serangan Udara terlihat saat tiba di Kabul Afganistan, untuk memberikan dukungan kepada warga negara Inggris yang meninggalkan negara itu, sebagai bagian dari Operasi PITTING, setelah gerilyawan Taliban menguasai istana presiden di Kabul, 15 Agustus 2021.[Leading Hand Ben Shrread/RAF/Kementerian Pertahanan Inggris 2021/Handout via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Inggris menginvestigasi dugaan kabar sejumlah tentara mereka bunuh diri usai pulang dari perang di Afghanistan. Kabar yang beredar, sejumlah tentara mengakhiri nyawanya karena merasa gagal menjalankan tugas di Afghanistan mengingat Taliban mengambil alih pemerintahan di sana.

    Diberitakan sebelumnya, Taliban mengambil alih pemerintahan Afghanistan pada Agustus lalu. Pengambilalihan tersebut membuang segala kerja keras tentara asing, termasuk dari Inggris, selama dua dekade terakhir. Padahal, peperangan selama 20 tahun itu memakan biaya hingga triliunan Dollar Amerika.

    "Kami memperhatikan betul isu ini dengan hati-hati untuk mengetahui apakah benar ada tentara kami yang mengakhiri nyawanya atau tidak," ujar Menteri Pertahanan Muda, James Heappey, dikutip dari kantor berita Reuters, Senin, 6 September 2021.

    Sebelumnya, Heappey sempat mengabarkan bahwa dirinya menerima laporan ada sejumlah tentaranya yang bunuh diri usai pulang dari Afghanistan karena merasa gagal. Belakangan, ia mengklarifikasi pernyataannya, mengatakan pernyataan sebelumnya tidak akurat dan kabar bunuh diri masih diselidiki.

    Inggris diketahui kehilangan 457 personilnya selama perang dua dekade di Afghanistan. Angka tersebut mewakili 13 persen dari total jumlah tentara asing yang tewas di Afghanistan sejak 2001, 3500 orang.

    Heappey melanjutkan bahwa pihaknya juga terus memantau perkembangan di Afghanistan. Terutama, kata ia, soal status di lembah Panjshir. Kabar terakhir yang ia dengar, Taliban berhasil mengalahkan tentara pemberontak NRFA pimpinan Ahmad Massoud di Panjshir.

    Benar atau tidaknya kabar itu, kata Heappey, tidak mengubah kekhawatiran utama Inggris soal potensi munculnya kelompok-kelompok teroris di Afghanistan. Ia berkata, Inggris khawatir kembalinya Taliban dan ruang kosong yang ditinggalkan tentara asing bakal menjadi ladang subur untuk pembibitan Al Qaeda di Timur Tengah setelah 20 tahun.

    Baca juga: Lihat Situasi Afghanistan dan COVID-19, Mantan PM Inggris Waspadai Bio-Terorisme

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.