Negara-negara Kaya Timbun Vaksin Covid-19, Stok Berlebih Hingga 1,2 Miliar Dosis

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kesehatan menyiapkan vaksin Pfizer saat vaksinasi Covid-19 di Mal Cilandak Town Square, Jakarta, Rabu, 1 September 2021. Penyebab pertama adalah masyarakat belum merasa yakin dengan keamanan vaksin Covid-19 dan kedua, warga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya untuk antre vaksin Covid-19. ANTARA/Fauzan/

    Petugas kesehatan menyiapkan vaksin Pfizer saat vaksinasi Covid-19 di Mal Cilandak Town Square, Jakarta, Rabu, 1 September 2021. Penyebab pertama adalah masyarakat belum merasa yakin dengan keamanan vaksin Covid-19 dan kedua, warga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya untuk antre vaksin Covid-19. ANTARA/Fauzan/

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketimpangan akses terhadap vaksin Covid-19 kian lebar. Negara-negara kaya memiliki stok vaksin covid-19 berlimpah sementara negara-negara miskin sebaliknya. Cakupan vaksinasi negara miskin amat rendah karena kesulitan mengakses vaksin covid-19. 

    Dilansir dari Al Jazeera, negara kaya memiliki surplus 1,2 miliar dosis Vaksin Covid-19. Hingga akhir 2021, negara-negara kaya akan memiliki 1,2 miliar dosis suntikan vaksin yang tidak akan disumbangkan ke negara miskin.

    Stok vaksin di negara-negara Barat telah mencapai 500 juta dosis bulan ini, Sebanyak 360 juta dosis tidak dialokasikan untuk sumbangan, menurut penelitian baru oleh perusahaan analisis data Airfinity.

    Pada akhir tahun, negara-negara ini akan memiliki potensi surplus 1,2 miliar dosis vaksin, yang sebagian besar tidak untuk disumbangkan. Laporan lengkap berasal dari pasokan vaksin negara-negara Amerika Serikat, Inggris, Uni Eropa, Kanada, dan Jepang, akan diterbitkan pada 7 September.

    Ketidaksetaraan vaksin telah dikecam oleh banyak tokoh dan pejabat kesehatan terkemuka. COVAX, skema pembagian vaksin global yang didukung PBB, pada awalnya bertujuan memberikan dua miliar dosis vaksin kepada masyarakat di 190 negara tahun, termasuk 92 negara berpenghasilan rendah. Dengan mekanisme ini, PBB mengejar target 20 persen populasi sudah divaksinasi.

    Namun kesepakatan negara-negara kaya dengan produsen vaksin telah membatasi ketersediaan untuk COVAX dan menyebabkan penimbunan vaksin.

    Pada hari Minggu, Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan pada pertemuan para menteri kesehatan G20 bahwa ketidakadilan global terhadap vaksin tidak dapat diterima.

    Sebanyak 5 miliar vaksin lebih telah diberikan di seluruh dunia atau hampir 75 persen dari dosis tersebut telah diberikan hanya di 10 negara. Menurut dia, cakupan vaksinasi di Afrika hanya 2 persen.

    Pada hari Minggu, mantan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown menuduh negara-negara kaya memancing kemarahan moral dengan menimbun dosis Covid-19. Sebaliknya negara-negara miskin berjuang untuk mendapatkan pasokan.

    Brown, yang merupakan utusan khusus PBB, meminta Presiden AS Joe Biden dan para pemimpin negara-negara G-7 lainnya segera mengirimkan vaksin dari gudang di Amerika dan Eropa ke Afrika.

    Baca: Inggris Kirim Vaksin COVID-19 Untuk Delegasi Konferensi Perubahan Iklim COP 26

    AL JAZEERA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.