Presiden Iran Ebrahim Raisi Siap Lanjutkan Negosiasi Perjanjian Nuklir

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden terpilih Iran Ebrahim Raisi menghadiri konferensi pers di Teheran, Iran 21 Juni 2021.[Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS]

    Presiden terpilih Iran Ebrahim Raisi menghadiri konferensi pers di Teheran, Iran 21 Juni 2021.[Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Iran Ebrahim menyampaikan bahwa pihaknya siap melanjutkan negosiasi perjanjian nuklir (JCPOA) yang belum rampung hingga sekarang. Namun, Raisi mengatakan Iran hanya akan melakukannya apabila tak ada tekanan dari Barat dan Amerika janji mengangkat sanksi.

    "Negara-negara barat dan Amerika menginginkan negosiasi dengan menekan kami. Negosiasi macam apa itu? Saya sudah katakan bahwa kami siap untuk bernegosiasi, namun tidak dengan tekanan," ujar Ebrahim Raisi, dikutip dari Reuters, Ahad, 5 September 2021.

    Raisi menegaskan bahwa melanjutkan perjanjian nuklir Iran sudah dalam agendanya. Namun, ia menginginkan negosiasi yang bersifat goal-oriented. Oleh karenanya, ia tidak setuju apabila negosiasi lebih sebagai upaya untuk mewujudkan kepentingan negara-negara barat dan tidak mengikutkan kepentingan Iran.

    "Kami ingin sanksi ke Iran diangkat sehingga masyarakat kami bisa hidup sejahtera," ujar Ebrahim Raisi menegaskan.

    Sebelumnya, Prancis dan Jerman telah mendesak Iran untuk segera kembali ke meja negosiasi usai pemerintahan baru terbentuk. Sebelumnya, negosiasi ditunda karena Raisi belum dilantik. Adapun kedua negara khawatir pemerintahan baru Iran akan melanjutkan pengembangan nuklir hingga melebihi target yang ditetapkan.

    Silinder berisi uranium di fasilitas nuklir Fordow, Iran.[IRNA]

    Apabila mengacu pada laporan PBB, kekhawatiran itu sudah terwujud. Lembaga pengawas nuklir di bawah PBB melaporkan Iran telah menggenjot kemurnian uranium metal hingga 20 persen. Selain itu, kapasitas pengayaan uranium metal juga dinaikkan hingga 60 persen. Uranium metal, perlu diketahui, adalah bahan baku bom nuklir.

    Perjanjian Nuklir Iran sendiri, dikenal juga sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), adalah kesepakatan yang diteken delapan negara di tahun 2015. Tujuannya, memastikan program pengayaan nuklir Iran ditekan hingga 3,67 persen. Ada kekhawatiran dari berbagai negara bahwa cadangan uranium Iran cukup untuk membuat senjata pemusnah massal baru.

    Tahun 2018, mantan Presiden Amerika Donald Trump menarik negaranya dari kesepakatan tersebut dan menjatuhkan sanksi ekonomi ke Iran. Mereka tidak percaya Iran akan patuh janji. Kesal ditelikung Amerika, Iran balik menggenjot program pengayaan nuklir dengan target setinggi mungkin seperti yang terjadi sekarang.

    Situasi mulai berubah ketika Joe Biden menggantikan Trump. Ia ingin membawa Amerika dan Iran sama-sama kembali ke Perjanjian Nuklir. Jika Iran kooperatif, Joe Biden berjanji sanksi ekonomi Iran akan ia angkat. Iran, sebaliknya, meminta sanksi diangkat dulu baru mereka kembali ke perjanjian. Hal itu yang menjadi landasan negosiasi perjanjian nuklir Iran sekarang.

    Baca juga: Iran Tunggu Ebrahim Raisi Memimpin, Negosiasi Perjanjian Nuklir Bakal Molor

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.