Pemerintahan Joe Biden Tolak Berikan Akses Aset Negara Afghanistan ke Taliban

Reporter

Warga antre di depan bank di Kabul, Afghanistan, 1 September 2021. Harga komoditas termasuk tepung, minyak, dan beras naik dengan cepat dan mata uang Afghanistan jatuh, dengan penukar uang di Pakistan sudah menolak untuk menerima mata uang Afghani. REUTERS/Stringer

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintahan Joe Biden tidak memiliki rencana untuk melepaskan miliaran cadangan emas Afghanistan, investasi dan cadangan mata uang asing yang disimpan di Amerika Serikat setelah pengambilalihan Taliban, meskipun ada tekanan dari kelompok-kelompok kemanusiaan dan lainnya yang mengatakan penahanan aset Afghanistan akan menyebabkan keruntuhan ekonomi.

Sebagian besar aset bank sentral Afghanistan senilai US$10 miliar (Rp142,5 triliun) disimpan di luar negeri, di mana aset itu dianggap sebagai instrumen kunci bagi Barat untuk menekan Taliban agar menghormati hak-hak perempuan dan supremasi hukum.

Pembekuan aset ini mungkin beberapa bulan lagi, kata pakar keuangan.

Pejabat dari Departemen Luar Negeri AS, Departemen Keuangan AS, Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih dan badan-badan lainnya, telah berdiskusi secara teratur tentang keuangan Afghanistan sejak Taliban mengambil alih pada pertengahan Agustus.

Keputusan apa pun untuk mengeluarkan dana kemungkinan akan melibatkan pejabat tinggi AS dari beberapa departemen tetapi pada akhirnya akan tergantung pada Presiden Joe Biden, kata para ahli, dikutip dari Reuters, 3 September 2021.

Harga makanan dan bahan bakar melonjak di seluruh Afghanistan, di tengah kekurangan uang tunai yang dipicu oleh penghentian bantuan asing, penghentian pengiriman dolar dan kekeringan.

Departemen Keuangan AS minggu ini mengatakan telah memberikan lisensi yang memberi wewenang kepada pemerintah AS dan mitranya, untuk terus memfasilitasi bantuan kemanusiaan di Afghanistan. Depkeu AS juga memberi Western Union perusahaan pengiriman uang terbesar di dunia, dan lembaga keuangan lainnya lampu hijau untuk melanjutkan pemrosesan pengiriman uang pribadi ke Afghanistan dari para migran di luar negeri.

Departemen Keuangan AS tidak mengurangi sanksi terhadap Taliban atau melonggarkan pembatasan akses mereka ke sistem keuangan global, kata seorang juru bicara kepada Reuters.

"Pemerintah Amerika Serikat telah berhubungan dengan mitra kemanusiaan di Afghanistan, baik mengenai kondisi keamanan di lapangan dan tentang kemampuan mereka untuk melanjutkan pekerjaan kemanusiaan mereka," kata juru bicara itu.

"Saat kami mempertahankan komitmen kami kepada rakyat Afghanistan, kami tidak mengurangi tekanan sanksi terhadap para pemimpin Taliban atau pembatasan signifikan pada akses mereka ke sistem keuangan internasional," katanya.

Antrean panjang di depan bank di Kabul, Afghanistan, 1 September 2021. Sebelumnya pada Sabtu (28/8), Taliban telah memerintahkan bank untuk dibuka kembali dan memberlakukan batasan penarikan tunai hingga 20.000 Afghani atau sekitar Rp3,6 juta. REUTERS/Stringer

Shah Mehrabi, seorang profesor ekonomi di Maryland dan anggota lama dewan bank sentral Afghanistan, seorang pejabat senior Rusia dan kelompok-kelompok kemanusiaan, termasuk di antara mereka yang mendesak Departemen Keuangan AS untuk juga mencairkan aset Afghanistan, dengan mengatakan bahwa nyawa dipertaruhkan.

"Gravitasi situasinya sangat besar. Setiap hari yang berlalu akan menghasilkan lebih banyak penderitaan dan lebih banyak eksodus orang," kata Mehrabi.

Dana Moneter Internasional (IMF) juga telah memblokir Taliban dari mengakses sekitar US$ 440 juta (Rp6,2 triliun) cadangan darurat baru, atau Hak Penarikan Khusus, yang dikeluarkan oleh pemberi pinjaman global bulan lalu.

Bank for International Settlements, yang menurut para ahli juga memegang sekitar US$700 juta (Rp9,9 triliun) dari cadangan Afghanistan, menolak berkomentar, mengatakan itu adalah kebijakannya untuk tidak mengakui atau mendiskusikan hubungan perbankan.

Adnan Mazarei, mantan wakil direktur IMF dan sekarang menjadi pakar di Peterson Institute for International Economics, mengatakan IMF tidak dapat bertindak sampai dewannya memberikan suara, begitu Afghanistan memiliki pemerintahan yang diakui secara internasional.

Dia mengatakan bank sentral biasanya tidak menyentuh cadangan SDR mereka kecuali sebagai upaya terakhir. Bahkan Iran, yang berjuang di bawah sanksi internasional yang kuat, belum menggunakan cadangan darurat IMF, katanya.

Brian O'Toole, mantan pejabat Departemen Keuangan AS yang sekarang bekerja di Atlantic Council, mengatakan pelepasan aset Afghanistan kepada Taliban tidak akan menyelesaikan masalah besar Afghanistan.

Lihat juga: Afghanistan Dikuasai Taliban, Warga Berbondong-bondong Tarik Uang di Bank

REUTERS






Joe Biden: Caplok Ukraina, Tanda Putin dalam Posisi Sulit

10 jam lalu

Joe Biden: Caplok Ukraina, Tanda Putin dalam Posisi Sulit

Joe Biden menyebut pencaplokan sebagian Ukraina oleh Vladimir Putin merupakan tanda bahwa Presiden Rusia itu sedang dalam posisi sulit.


Bursa AS Jeblok ke Level Terburuk Sejak Maret 2020, Apa Sebabnya?

15 jam lalu

Bursa AS Jeblok ke Level Terburuk Sejak Maret 2020, Apa Sebabnya?

Bursa saham Amerika Serikat atau Bursa AS jeblok pada akhir perdagangan Jumat, 30 September 2022.


Serangan Bom Bunuh Diri di Pusat Pendidikan Afghanistan, 19 Tewas

1 hari lalu

Serangan Bom Bunuh Diri di Pusat Pendidikan Afghanistan, 19 Tewas

Sebuah bom bunuh diri di sebuah pusat pendidikan di ibu kota Afghanistan, Kabul, menewaskan sedikitnya 19 orang


Top 3 Dunia: Korea Selatan Tak Mau Ikut Campur Urusan Taiwan dengan Amerika

2 hari lalu

Top 3 Dunia: Korea Selatan Tak Mau Ikut Campur Urusan Taiwan dengan Amerika

Top 3 dunia pada 28 September 2022, di urutan pertama berita tentang keputusan Presiden Yoon Suk-yeol yang tidak mau terlibat dalam urusan Taiwan


Rusia Beri Diskon Besar-besaran Bensin hingga Gandum untuk Taliban

3 hari lalu

Rusia Beri Diskon Besar-besaran Bensin hingga Gandum untuk Taliban

Taliban mendapatkan harga murah dari Rusia untuk BBM dan gandum. Kedua pihak telah meneken kesepakatan.


Fatima Payman, Senator Berjilbab Pertama di Australia

4 hari lalu

Fatima Payman, Senator Berjilbab Pertama di Australia

Fatima Payman, wanita kelahiran Kabul, Afganistan itu telah membuat sejarah baru lantaran menjadi senator berhijab pertama di Negeri Kanguru.


Top 3 Dunia: Wartawati CNN Tolak Pakai Hijab sampai Bantuan untuk Ukraina

7 hari lalu

Top 3 Dunia: Wartawati CNN Tolak Pakai Hijab sampai Bantuan untuk Ukraina

Berita Top 3 Dunia tentang jurnalis CNN tolak pakai hijab saat wawancarai Presiden Iran, demo tolak hijab, dan Biden-Truss sepakat bantu Ukraina


Pandemi Covid-19 Sudah Berakhir di AS? Para Epidemiolog Ingatkan Excess Mortality

9 hari lalu

Pandemi Covid-19 Sudah Berakhir di AS? Para Epidemiolog Ingatkan Excess Mortality

Jumlah kasus baru AS tertinggi kedua setelah Jepang, tapi angka kematiannya tertinggi dI dunia. Berikut update pandemi Covid-19 di Amerika dan dunia.


Taliban Copot Menteri Pendidikan Afghanistan

10 hari lalu

Taliban Copot Menteri Pendidikan Afghanistan

Taliban melakukan reshuffle kabinet di antaranya dengan mengganti menteri pendidikan.


Jokowi Tak Mau Ikut Joe Biden Nyatakan Pandemi Covid-19 Telah Berakhir

11 hari lalu

Jokowi Tak Mau Ikut Joe Biden Nyatakan Pandemi Covid-19 Telah Berakhir

Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyatakan bahwa pandemi Covid-19 di negaranya telah berakhir.