PRT Indonesia Dipaksa Minum Air WC di Singapura Gara-gara Susu Bayi Kepanasan

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Turis berfoto di sebelah patung singa Merlion di kawasan pusat bisnis Singapura 6 Februari 2015. [REUTERS / Edgar Su]

    Turis berfoto di sebelah patung singa Merlion di kawasan pusat bisnis Singapura 6 Februari 2015. [REUTERS / Edgar Su]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pembantu rumah tangga atau PRT asal Indonesia disiksa oleh majikannya di Singapura. Pembantu bernama Sri Rahayu ini dipukul, ditendang dan dipaksa minum air dari WC selama bekerja di rumah keluarga Ooi Wein Voen dan suaminya, Pang Chen Yong.

    Pengadilan Singapura telah menjatuhkan hukuman 20 bulan penjara untuk Ooi. Sedangkan suaminya Pang dihukum empat bulan penjara. Keduanya berusia 37 tahun.

    Sri Rahayu mulai bekerja untuk pasangan itu pada April 2017. Pasangan Ooi dan Pang memiliki putra yang saat itu berusia dua tahun dan bayi perempuan berusia 9 bulan.

    Pada Juli 2917, Pang dan Ooi mulai memukul Sri Rahayu karena pekerjaan rumah tangganya kurang memuaskan. Menurut Wakil Jaksa Penuntut Umum Goh Qi Shuen kepada pengadilan, Ooi akan menampar kedua pipi Sri Rahayu sampai memerah, meninju dahinya atau memukul tangannya dengan penggaris logam saat dia kesal.

    “Pada kesempatan lain, untuk menghukum korban karena cucian tidak kering, Ooi memaksa korban tidur dengan pakaian yang basah," ujar Goh.

    Penyiksaan terus berlanjut. Pada Agustus 2017, selama menginap di hotel di Sentosa, Ooi kesal saat putrinya mulai menangis. Menurut Ooi, susu bayinya terlalu panas.

    Ooi lalu memukul dahi dan meninju mata Sri Rahayu. Akibatnya, dahi dan mata korban bengkak dan tidak bisa melihat dengan baik.

    Jaksa juga mengatakan Ooi pernah menuangkan air mendidih ke korban karena sang bayi menangis. Sedangkan Pang pernah memukul lengan Sri Rahayu dengan beberapa kali dan berhenti ketika pegangan panci patah. Alasannya Sri Rahayu gagal mengerjakan tugas rumah tangga.

    PRT Indonesia Sri Rahayu juga tidak diizinkan menggantung pakaian di balkon atau meninggalkan unit untuk membuang sampah. Sebabnya Ooi takut tetangga akan melihat memar di lengannya.

    Korban berhasil melarikan diri saat pasangan itu merawat sedang bayinya. Ia mencari bantuan dari PRT Indonesia lainnya yang kebetulan lewat di dekat apartemen. Dia dibawa ke kantor polisi dan kemudian ke Rumah Sakit Khoo Teck Puat.

    Baca: 80 Persen Warga Singapura Sudah Terima Vaksin COVID-19

    CHANNEL NEWS ASIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.