PBB Sebut Taliban Telah Menganiaya Stafnya di Afghanistan

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pejuang Taliban berbaris berseragam di jalan di Qalat, Provinsi Zabul, Afghanistan, pada 19 Agustus 2021. REUTERS

    Pejuang Taliban berbaris berseragam di jalan di Qalat, Provinsi Zabul, Afghanistan, pada 19 Agustus 2021. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa Taliban telah menganiaya staf mereka yang berada di Afghanistan. Salah satunya dipukuli pada Ahad pekan lalu ketika yang bersangkutan tengah berjalan menuju Bandara Hamid Karzai, Kabul, untuk dievakuasi. Hal itu terungkap dari dokumen internal PBB yang bocor ke media.

    "Taliban menggeledah mobilnya dan menemukan kartu identitas PBB. Mereka kemudian memukulinya," ujar dokumen internal PBB, sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters, Kamis, 26 Agustus 2021.

    Insiden kedua terjadi di hari Senin pekan ini. Tiga pria misterius, yang diyakini sebagai Taliban, mengunjungi rumah staf PBB dan mencarinya. Anak dari staff terkait mengatakan ayahnya tak berada di rumah yang kemudian dituding telah berbohong.

    Kedua insiden tersebut adalah sebagian dari sejumlah laporan yang diterima PBB. Selain penganiayaan, PBB menyampaikan stafnya juga diancam dan rumhanya dijarah. Hal itu, kata dokumen internal PBB, terjadi sejak 10 Agustus lalu, empat hari sebelum Taliban mengambil alih pemerintahan.

    Selama ini, Taliban selalu mengklaim bahwa mereka telah berubah, akan menghargai HAM, serta menjamin keselamatan warga internasional maupun lokal di Afghanistan. Hal itu, kata mereka, demi mendapat pengakuan dari komunitas internasional. Namun, beberapa laporan terakhir menunjukkan sebaliknya.

    Selain dokumen PBB, ada juga laporan bahwa mereka memaksa warga-warga di Afghanistan untuk bekerja. Selain itu, warga perempuan juga diminta Taliban untuk tidak bekerja dengan dalih untuk keselamatan mereka. Hal itu menimbulkan ketidakpercayaan dari berbagai pihak.

    Juru bicara PBB tidak membantah ataupun membenarkan isi dokumen yang bocor. Walau begitu, mereka menyatakan bahwa Taliban bertanggung jawab atas keselamatan warga ataupun personil PBB yang bertugas di Afghanistan.

    "Kami terus berkomunikasi dengan mereka (Taliban) untuk hal tersebut," ujar juru bicara PBB, Stephane Dujarric.

    Dujarric menambahkan, PBB telah merelokasi 300 stafnya dari Afghanistan ke Kazakhstan. Mereka yang masih berada di Afghanistan ada 3000 orang.

    Taliban, per berita ini ditulis, belum memberikan komentar apapun atas laporan internal PBB. Namun, sebelumnya, Taliban berjanji akan menginvestigasi segala kasus penganiayaan yang dilakukan oleh anggotanya di Afghanistan.

    Baca juga: Taliban Minta Perempuan Afghanistan Untuk di Rumah dan Tidak Bekerja

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.