Banyak Senjata Amerika Jatuh ke Tangan Taliban, Senjata Apa Saja yang Disita?

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasukan Taliban berjaga-jaga dengan menenteng Senapan Mesin M249 di dalam Kabul, Afghanistan 16 Agustus 2021. Senapan mesin otomatis yang berasal dari Amerika Serikat ini menggunakan kaliber 5,56 mm. REUTERS/Stringer

    Pasukan Taliban berjaga-jaga dengan menenteng Senapan Mesin M249 di dalam Kabul, Afghanistan 16 Agustus 2021. Senapan mesin otomatis yang berasal dari Amerika Serikat ini menggunakan kaliber 5,56 mm. REUTERS/Stringer

    TEMPO.CO, Jakarta - Kejatuhan pasukan pemerintah Afghanistan mengakibatkan sejumlah senjata dan kendaraan militer Amerika Serikat yang ditransfer ke pemerintah Afghanistan jatuh ke tangan Taliban.

    Sekitar sebulan yang lalu, kementerian pertahanan Afghanistan mengunggah foto-foto media sosial tujuh helikopter baru yang tiba di Kabul yang dikirim oleh Amerika Serikat.

    "Mereka akan terus melihat dukungan besar semacam itu, ke depan," kata Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin kepada wartawan beberapa hari kemudian di Pentagon, dikutip dari Reuters, 22 Agustus 2021.

    Namun, dalam beberapa minggu, Taliban telah merebut sebagian besar negara itu, serta semua senjata dan peralatan militer yang ditinggalkan oleh pasukan Afghanistan yang melarikan diri.

    Video menunjukkan gerilyawan Taliban memeriksa barisan panjang kendaraan dan membuka peti senjata api baru, peralatan komunikasi, dan bahkan pesawat nirawak militer.

    "Segala sesuatu yang belum dihancurkan adalah milik Taliban sekarang," seorang pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan kepada Reuters.

    Mantan pejabat AS dan yang masih menjabat mengatakan ada kekhawatiran senjata itu dapat digunakan untuk membunuh warga sipil, disita oleh kelompok militan lain seperti ISIS, untuk menyerang kepentingan AS di kawasan itu, atau bahkan berpotensi diserahkan kepada musuh termasuk China dan Rusia.

    Pemerintahan Presiden Joe Biden sangat prihatin dengan senjata itu sehingga sedang mempertimbangkan sejumlah opsi.

    Para pejabat mengatakan meluncurkan serangan udara terhadap peralatan yang lebih besar, seperti helikopter, belum dikesampingkan, tetapi ada kekhawatiran tindakan itu akan membuat Taliban murka ketika Amerika Serikat serang mengevakuasi orang-orang.

    Kendaraan militer ditransfer oleh AS ke Tentara Nasional Afghanistan pada Februari 2021. [Kementerian Pertahanan Afghanistan/via REUTERS]

    Pejabat lain mengatakan bahwa sementara belum ada angka pasti, penilaian intelijen saat ini mengatakan Taliban diyakini mengendalikan lebih dari 2.000 kendaraan lapis baja, termasuk Humvee AS, dan hingga 40 pesawat termasuk UH-60 Black Hawks, helikopter serang pengintai, dan drone militer ScanEagle.

    "Kami telah melihat milisi Taliban dipersenjatai dengan senjata buatan AS yang mereka sita dari pasukan Afghanistan. Ini menimbulkan ancaman signifikan bagi Amerika Serikat dan sekutu kami," kata anggota DPR AS Michael McCaul, Republikan teratas di Komite Urusan Luar Negeri Dewan Perwakilan Rakyat AS, kepada Reuters.

    Kecepatan serangan Taliban di Afghanistan mengingatkan pada militan ISIS yang mengambil senjata dari pasukan Irak yang dipasok AS, yang memberikan sedikit perlawanan pada tahun 2014.

    Antara 2002 dan 2017, Amerika Serikat memberi militer Afghanistan sekitar US$28 miliar (Rp404 triliun) persenjataan, termasuk senjata, roket, kacamata penglihatan malam, dan bahkan drone kecil untuk pengumpulan intelijen.

    Tapi pesawat seperti helikopter Blackhawk telah menjadi tanda bantuan militer AS yang paling terlihat, dan seharusnya menjadi keuntungan terbesar militer Afghanistan atas Taliban.

    Pesawat yang diyakini disita mencakup sekitar 20 pesawat serang A-29 Tucano, kata narasumber di kongres kepada CNN, mencatat ada beberapa indikasi bahwa hanya sejumlah kecil pesawat yang dipindahkan dari pangkalan di Kandahar sebelum dikuasai oleh Taliban.

    "Kami juga khawatir bahwa beberapa mungkin berakhir di tangan orang lain yang mendukung perjuangan Taliban," kata sumber kongres itu kepada CNN. "Ketakutan terbesar saya adalah persenjataan canggih akan dijual kepada musuh kita dan aktor non-negara lainnya yang berniat menggunakannya untuk melawan kita dan sekutu kita."

    Antara tahun 2003 dan 2016 Amerika Serikat menyediakan pasukan Afghanistan dengan 208 pesawat, menurut Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS (GAO).

    Pada minggu lalu, banyak dari pesawat itu digunakan pilot Afghanistan untuk melarikan diri dari Taliban.

    Salah satu pejabat AS mengatakan bahwa antara 40 dan 50 pesawat telah diterbangkan ke Uzbekistan oleh pilot Afghanistan yang menyelamatkan diri. Bahkan sebelum mengambil alih kekuasaan di Kabul selama akhir pekan, Taliban telah memulai kampanye pembunuhan pilot.

    Beberapa pesawat berada di Amerika Serikat untuk pemeliharaan dan akan tetap di sana. Mereka yang dalam perjalanan ke pasukan Afghanistan malah akan digunakan oleh militer AS untuk membantu evakuasi dari Kabul.

    Pejabat saat ini dan mantan pejabat mengatakan meski mereka khawatir Taliban memiliki akses ke helikopter, pesawat juga membutuhkan perawatan berkala dan sangat rumit untuk diterbangkan tanpa pelatihan ekstensif.

    "Ironisnya, fakta bahwa peralatan kami sering rusak menjadi semacam penyelamat di sini," kata pejabat ketiga.

    Pensiunan Jenderal Angkatan Darat AS Joseph Votel, yang mengawasi operasi militer AS di Afghanistan sebagai kepala Komando Pusat AS dari 2016 hingga 2019, mengatakan sebagian besar perangkat keras militer kelas atas yang ditangkap oleh Taliban, termasuk pesawat, tidak dilengkapi dengan teknologi sensitif AS.

    "Dalam beberapa kasus, beberapa di antaranya akan lebih seperti piala," kata Votel.

    Ada kekhawatiran yang lebih mendesak tentang beberapa senjata dan peralatan yang lebih mudah digunakan, seperti kacamata penglihatan malam.

    Sejak tahun 2003 Amerika Serikat telah menyediakan pasukan Afghanistan dengan setidaknya 600.000 senjata infanteri termasuk senapan serbu M16, 162.000 buah peralatan komunikasi, dan 16.000 perangkat night-vision goggle.

    "Kemampuan untuk beroperasi di malam hari adalah penentu pertempuran yang nyata," kata seorang ajudan kongres kepada Reuters.

    Pejuang Taliban berdiri di luar Kementerian Dalam Negeri dengan menenteng senapan M16 di Kabul, Afghanistan, 16 Agustus 2021. M16 adalah kesimpulan dari senjata senapan serbu yang lebih modern dan lebih maju. Kinerjanya lebih unggul dibanding AK-47. REUTERS/Stringer

    Votel dan yang lainnya mengatakan senjata kecil yang disita oleh pemberontak seperti senapan mesin, mortir, serta artileri termasuk howitzer, dapat memberi Taliban keuntungan melawan segala perlawanan yang dapat muncul di benteng anti-Taliban bersejarah seperti Lembah Panjshir di timur laut Kabul.

    Para pejabat AS menduga sebagian besar senjata akan digunakan oleh Taliban sendiri, tetapi terlalu dini untuk mengatakan apa yang mereka rencanakan, termasuk kemungkinan berbagi peralatan dengan negara-negara saingan seperti China.

    Andrew Small, pakar kebijakan luar negeri China di German Marshall Fund of the United States, mengatakan bahwa Taliban kemungkinan akan memberi Cina akses ke senjata AS apa pun yang sekarang mungkin mereka kendalikan.

    Salah satu pejabat AS mengatakan tidak mungkin China akan mendapatkan banyak keuntungan, karena Cina kemungkinan besar sudah memiliki akses ke senjata dan peralatan tersebut.

    Situasi tersebut, kata para ahli, menunjukkan bahwa Amerika Serikat membutuhkan cara yang lebih baik untuk memantau peralatan yang diberikannya kepada sekutu. AS harus memastikan pasokan senjata ke pasukan Afghanistan dipantau dan diinventarisasi dengan cermat, kata Justine Fleischner dari Penelitian Persenjataan Konflik yang berbasis di Inggris.

    "Tetapi waktu sudah terlambat agar upaya ini berdampak di Afghanistan," kata Fleischner.

    Penghancuran dan pemindahan peralatan AS di Afghanistan dimulai dengan sungguh-sungguh tidak lama setelah pemerintahan Trump menandatangani perjanjian Doha pada Februari 2020, dan militer mulai mengurangi jejaknya dari 8.500 tentara menjadi 2.500. Tapi itu dimulai, dengan kecepatan yang lebih lambat, bahkan sebelum itu, ketika pada 2018 tingkat pasukan AS turun di bawah 14.000.

    Foto dan video menunjukkan anggota Taliban yang membawa karabin M4 dan senapan M16 yang dipasok AS. Operasi evakuasi tetap menjadi fokus utama pemerintah, tetapi para pejabat di Pentagon dan Departemen Luar Negeri AS juga mulai memeriksa senjata Amerika yang telah jatuh ke tangan Taliban.

    Lihat juga: Belum Setahun Dipakai, Pesawat Tempur A-29 Afghanistan Terbengkalai

    REUTERS | CNN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...