Dubes Rusia untuk Afghanistan Akui Bakal Sia-sia Melawan Taliban

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasukan Taliban berjaga-jaga dengan menenteng Senapan Mesin M249 di dalam Kabul, Afghanistan 16 Agustus 2021. Senapan mesin otomatis yang berasal dari Amerika Serikat ini menggunakan kaliber 5,56 mm. REUTERS/Stringer

    Pasukan Taliban berjaga-jaga dengan menenteng Senapan Mesin M249 di dalam Kabul, Afghanistan 16 Agustus 2021. Senapan mesin otomatis yang berasal dari Amerika Serikat ini menggunakan kaliber 5,56 mm. REUTERS/Stringer

    TEMPO.CO, Jakarta - Duta Besar Rusia untuk Afghanistan memuji perilaku Taliban pada Jumat di hari-hari sejak pengambilalihan, mengatakan tidak ada alternatif untuk kelompok Islam garis keras dan perlawanan terhadapnya akan gagal.

    Komentar Duta Besar Dmitry Zhirnov mencerminkan upaya Rusia untuk memperdalam hubungan yang sudah terjalin baik dengan Taliban, sambil menunggu mengakui mereka sebagai penguasa sah Afghanistan. Uni Soviet pernah berupaya menduduki Afghanistan tetapi gagal dan menarik pasukannya pada 1989.

    Rusia ingin memastikan bahwa ketidakstabilan di Afghanistan tidak meluas ke Asia Tengah, bagian dari bekas Uni Soviet yang dianggapnya sebagai halaman belakang, dan kawasan itu tidak menjadi landasan bagi kelompok-kelompok Islam ekstrem lainnya.

    Berbicara kepada Reuters dari Kabul oleh Zoom, Zhirnov mengatakan situasi keamanan di ibu kota jauh lebih baik daripada sebelum Taliban mengambil kendali dan berbicara optimis tentang masa depan.

    "Suasana hati di Kabul dapat digambarkan sebagai salah satu harapan yang hati-hati," kata Zhirnov, dikutip dari Reuters, 21 Agustus 2021.

    "Ada rezim buruk yang menghilang dan orang-orang berharap. Mereka mengatakan itu tidak bisa lebih buruk jadi harus lebih baik. Tapi ini adalah ujian lain yang harus dilalui Taliban. Setelah mereka memulihkan ketertiban, mereka harus mulai memperbaiki sosial- situasi ekonomi," katanya.

    Seorang anggota Taliban berjaga saat orang-orang berjalan di pintu masuk Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, 16 Agustus 2021. Diketahui sebelumnya Taliban menggunakan senapan AK-47, tetapi kini pasukan tersebut telah menggunakan senjata milik Amerika Serikat M16. REUTERS/Stringer

    Kabul sebagian besar tenang, kecuali di dalam dan sekitar bandara di mana 12 orang tewas sejak Minggu, kata pejabat NATO dan Taliban.

    Komentar Zhirnov sangat kontras dengan beberapa politisi dan aktivis hak asasi Barat yang sangat skeptis Taliban telah mengurangi kekerasannya terhadap kelompok yang mereka anggap tidak sesuai menurut hukum Islam.

    Zhirnov mengatakan fakta di lapangan telah berubah dan Taliban telah membuat serangkaian janji.

    "Kami tidak bisa mengesampingkan kenyataan. Mereka (Taliban) adalah otoritas de-facto. Tidak ada alternatif selain Taliban di Afghanistan," kata Zhirnov.

    Putra Ahmad Shah Massoud, salah satu pemimpin utama perlawanan anti-Soviet Afghanistan pada 1980-an, telah berjanji untuk bertahan melawan Taliban dari kubunya di Lembah Panjshir di utara Kabul.

    Wakil Presiden Pertama Afghanistan Amrullah Saleh juga mengatakan dia berada di Afghanistan dan mengumumkan diri sebagai presiden sementara yang sah, setelah Presiden Ashraf Ghani melarikan diri.

    Zhirnov mengatakan deklarasi Saleh melanggar konstitusi dan bahwa upaya berbasis Panjshir untuk melawan Taliban akan gagal.

    "Mereka tidak memiliki prospek militer. Tidak banyak orang di sana. Sejauh yang kami tahu mereka memiliki 7.000 orang bersenjata. Dan mereka sudah memiliki masalah dengan bahan bakar. Mereka mencoba menerbangkan helikopter tetapi mereka tidak memiliki bensin dan persediaan," katanya.

    Zhirnov juga mempertanyakan gagasan bahwa semua orang Afghanistan yang mencoba melarikan diri dari negara itu melakukannya karena Taliban.

    "Banyak orang sekarang melihat situasi ini sekarang sebagai tiket yang mungkin menuju kehidupan baru (di Barat) dan ini mungkin tidak terkait dengan Taliban," kata Zhirnov tentang eksodus yang kacau di bandara Kabul.

    Baca juga: Kelompok Perlawanan Afghanistan Rebut Tiga Wilayah Provinsi Baghlan dari Taliban

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.