Inggris Siapkan Skema Imigrasi dan Pertemuan G7 Soal Penyintas Afghanistan

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Militan Taliban mengendarai mobil polisi saat berpatroli di Kabul, Afghanistan, 16 Agustus 2021. Juru bicara Taliban Mohammad Naeem mendeklarasikan bahwa perang di Afghanistan telah usai. Hal tersebut menyusul keberhasilan Taliban mengambil alih ibu kota Afghanistan, Kabul. REUTERS/Stringer

    Militan Taliban mengendarai mobil polisi saat berpatroli di Kabul, Afghanistan, 16 Agustus 2021. Juru bicara Taliban Mohammad Naeem mendeklarasikan bahwa perang di Afghanistan telah usai. Hal tersebut menyusul keberhasilan Taliban mengambil alih ibu kota Afghanistan, Kabul. REUTERS/Stringer

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Inggris akan meluncurkan skema penempatan baru untuk warga Afghanistan yang membutuhkan. Hal tersebut untuk merespon keberhasilan Taliban mengambil alih Kabul, Afghanistan pada hari Senin kemarin.

    Menurut laporan Reuters, skema baru ini akan terpisah dari sistem suaka Inggris. Diperkirakan skema yang baru ini akan lebih mirip dengan program penempatan penyintas Suriah dari kamp pengungsian ke Inggris.

    "Kami mencoba memberikan apapun dukungan yang diperlukan oleh warga Afghanistan. Mereka sudah bekerja keras untuk membuat negara mereka lebih baik 20 tahun terakhir dan sekarang mereka membutuhkan bantuan," ujar keterangan pers Pemerintah Inggris, Selasa, 17 Agustus 2021.

    Selain merencanakan skema baru tersebut, Pemerintah Inggris menambahkan bahwa PM Boris Johnson juga akan menggelar pertemuan virtual dengan negara anggota G7 dalam waktu dekat. Hal itu bertujuan untuk memastikan Afghanistan tidak berubah menjadi sumber teroris dan bagaimana membantu warga di sana.

    Sejauh ini, menurut laporan Reuters, baru Presiden Prancis Emmanuel Macron yang sudah dihubungi oleh Johnson soal rencana tersebut.

    Jerman, yang juga anggota G7, belum memberikan keterangan apapun soal rencana pertemuan dengan Boris Johnson. Sejauh ini, Kanselir Angela Merkel hanya mengatakan ada 10 ribu orang di Afghanistan yang wajib diselamatkan oleh Jerman.

    Sebanyak 10 Ribu orang tersebut terdiri atas staf, aktivis ham, pengacara, dan orang-orang yang keselamatannya dalam bahaya karena sempat bekerja untuk Jerman. Jumlah warga Afghanistan dalam kelompok tersebut kurang lebih 2500 orang.

    "Kami juga perlu bekerja sama dengan negara-negara yang berbatasan dengan Afghanistan untuk memfasilitasi mereka yang kabur (dari Taliban). Topik ini akan menjadi bahan pembahasan untuk waktu yang lama," ujar Merkel.

    Sementara itu, di Amerika, pemerintahan Presiden Joe Biden menegaskan bahwa proses evakuasi terus berjalan. Selasa ini, proses evakuasi yang sempat diberhentikan sementara pada Senin kemarin sudah dilanjutkan lagi. Adapun 6000 personil militer dikerahkan untuk membantu proses evakuasi di bandara Kabul yang juga diincar Taliban.

    Baca juga: Mengapa Presiden Afganistan Ashraf Ghani Kabur Ke Tajikistan?

    ISTMAN MP | REUTERS | AL JAZEERA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.