Inggris Tidak Akan Akui Taliban Sebagai Pemerintah Afghanistan

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasukan Taliban berpatroli di sebuah jalan di Herat, Afghanistan 14 Agustus 2021. Kelompok Islam garis keras Taliban dikabarkan telah memasuki ibu kota Afganistan, Kabul dari semua sisi pada hari Ahad. REUTERS/Stringer

    Pasukan Taliban berpatroli di sebuah jalan di Herat, Afghanistan 14 Agustus 2021. Kelompok Islam garis keras Taliban dikabarkan telah memasuki ibu kota Afganistan, Kabul dari semua sisi pada hari Ahad. REUTERS/Stringer

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Inggris meminta negara manapun untuk tidak mengakui Taliban sebagai pemerintah Afghanistan. Hal tersebut menyusul jatuhnya ibu kota Afghanistan, Kabul, ke tangan Taliban yang sekaligus mengakhiri perang di antara kedua kubu.

    "Kami tidak ingin siapapun secara bilateral mengakui Taliban (sebagai Pemerintah Afghanistan)," ujar PM Inggris Boris Johnson dalam pernyataan persnya, dikutip dari kantor berita Reuters, Senin, 16 Agustus 2021.

    Boris Johnson meminta semua negara untuk solid mencegah pemerintahan Afghanistan jatuh ke tangan Taliban. Menurutnya, jika Taliban memegang kendali penuh atas Afghanistan, maka negara tersebut akan berubah menjadi ladang pembibitan teroris.

    Untuk memastikan pemerintahan Taliban tak bertahan lama di Afghanistan, Johnson menyatakan mekanisme via PBB ataupun NATO bisa dipakai. Adapun untuk saat ini, pihaknya fokus membantu warga lokal maupun internasional di Afghanistan yang hendak melarikan diri mengingat bandara di Kabul menjadi sasaran Taliban.

    Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memberikan pembaruan tentang pembatasan santai yang diberlakukan di negara itu selama pandemi penyakit virus corona (COVID-19) pada konferensi pers di dalam Downing Street Briefing Room di London, Inggris 12 Juli 2021. [Daniel Leal-Olivas/ Kolam renang melalui REUTERS]

    "Kedutaan Besar Inggris bekerja keras di bandara untuk memproses segala aplikasi yang ada."

    "Kami rasa adil mengatakan bahwa situasi ini lebih cepat terjadi karena Amerika memutuskan untuk menarik pasukannya," ujar Boris Johnson, menyindir langkah Presiden Amerika Joe Biden menarik ribuan pasukan dari Afghanistan.

    Secara terpisah, Pemerintah Rusia mendukung apa yang disampaikan Inggris. Ahad kemarin, mereka menyatakan tidak mengakui Taliban sebagai pemerintah baru Afghanistan.

    Sementara itu, dari pihak Taliban, mereka mengatakan tengah berupaya untuk mendapat pengakuan dari komunitas internasional. Untuk mendukung hal tersebut, mereka berjanji akan menjaga keselamatan penduduk lokal, internasional, sipil, maupun diplomat. Mereka bahkan mengklaim akan membuka jalur komunikasi diplomatik dengan berbagai negara dalam waktu dekat.

    "Kami meminta semua negara dan entitas untuk duduk bersama dan menyelesaikan permasalahan di antara kita."

    "Kami sudah mencapai apa yang kami inginkan, yaitu kemerdekaan Afghanistan dan kemerdekaan warga kami. Kami tidak akan mengizinkan siapapun menduduki wilayah kami untuk mengincar siapapun. Kami juga tidak ingin menyakiti siapapun," ujar jubir Taliban, Mohammad Naeem, menegaskan berakhirnya perang Taliban - Afghanistan.

    Baca juga: Warga Afghanistan Kecewa Presiden Ashraf Ghani Kabur dari Taliban

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ini Daftar Lengkap Hari Libur Nasional dan Catatan Tentang Cuti Bersama 2022

    Sebanyak 16 hari libur nasional telah ditetapkan oleh pemerintah. Sedangkan untuk cuti bersama dan pergesera libur akan disesuaikan dengan kondisi.