Teruo Nakamura, Prajurit Jepang Sembunyi 30 Tahun di Hutan Pulau Morotai Maluku

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Teruo Nakamura. facebook/all about ww2

    Teruo Nakamura. facebook/all about ww2

    TEMPO.CO, Jakarta - Teruo Nakamura merupakan prajurit Jepang asal Taiwan, yang bersembunyi di hutan Desa Pilowo, Kepulauan Morotai hingga ditemukan kembali pada 1974. Ia tak tahu perang telah selesai, dan selama 30 tahun bersembunyi di hutan dan goa-goa di Morotai.

    Teruo Nakamura menjadi tentara sukarelawan Jepang ketika berusia 22 tahun. Saat itu, tahun 1942 dan Taiwan menjadi daerah koloni kekaisaran Jepang.

    Nakamura lahir di Taiwan, Republik Tiongkok pada 8 Oktober 1919. Ia terlahir dengan nama Attun Palalin, sementara media Taiwan banyak menyebutnya dengan Lee Guang-Hui. Nakamura berasal dari Suku Ami, pribumi Taiwan yang terbiasa hidup dengan berburu.

    Pada November 1943, ketika Jepang sedang menduduki Taiwan, Nakamura terkena wajib militer yang membuatnya masuk dalam sebuah unit sukarela Takasago dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Ketika itu ia ditempatkan di Pulau Morotai, Hindia Belanda. Dengan bergabung korps militer Jepang pula ia mendapatkan nama Teruo Nakamura.

    Menurut Yoshikuni Igarashi dalam Homecomings: The Belated Return of Japan's Lost Soldiers (2016) kesatuan tempat bertugasnya Nakamura terdiri dari 4 kompi. Dari 485 anggota yang tergabung di dalmnya, 373 di antaranya adalah orang Taiwan. Tugas militer Jepang kala itu adalah mempertahankan Pulau Morotai dari gempuran tentara sekutu, walaupun akhirnya kejadian itu benar terjadi dan tentara sekutu membangun pangkalan militernya disana.

    Hal ini pula yang menjadi dasar Nakamura pergi ke dalam hutan belantara lereng Gunung Galoka, Pulau Morotai untuk menantikan pasukan Jepang lainnya yang menjemputnya. Hal ini tidak ia lakukan tanpa alasan, sebab ia teringat akan kata-kata komandannya, Mayor Kawashima. “Tetaplah bertahan, karena cepat atau lambat angkatan darat Jepang akan datang, sekalipun seratus tahun mendatang,” ujar Kawashima.

    Di tengah hutan belantara, pokok-pokok bambu, dan dinginnya udara di lereng gunung, Nakamura membuat sebuah pondok yang berukuran 2 x 1,5 meter yang berdinding kayu dan beratap rotan. Di dalam gubuk tersebut Nakamura menantikan hari yang ia sebut “hari kemenangan” selama puluhan tahun. Perang dunia II usai, ia tak tahu dan terus bersembunyi hingga ditemukan TNI pada 1974, dan dikembalikan ke Jepang.

    GERIN RIO PRANATA 

    Baca: Kuil Yasukuni Saksi Bisu Kenangan Pahit Militerisme Jepang dari perang Dunia II

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.