PBB: Gelombang Panas Ekstrem Bakal Lebih Sering Terjadi karena Pemanasan Global

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sampai Sabtu, 7 Agustus 2021, kebakaran hutan di Yunani sudah memasuki hari ke lima. Kebakaran dipicu oleh gelombang panas dan angin kencang. Sumber: reuters

    Sampai Sabtu, 7 Agustus 2021, kebakaran hutan di Yunani sudah memasuki hari ke lima. Kebakaran dipicu oleh gelombang panas dan angin kencang. Sumber: reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Gelombang panas ekstrem yang sebelumnya hanya terjadi sekali setiap 50 tahun sekarang diperkirakan terjadi sekali setiap sepuluh tahun karena pemanasan global, sementara hujan dan kekeringan juga menjadi lebih sering, menurut laporan iklim PBB pada Senin.

    Laporan tersebut menemukan bahwa kita sudah mengalami efek perubahan iklim tersebut, karena planet ini telah melampaui suhu rata-rata lebih dari 1 derajat Celcius. Gelombang panas, kekeringan, dan hujan deras hanya akan menjadi lebih sering dan ekstrem seiring dengan semakin panasnya bumi.

    Ini adalah pertama kalinya UN Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menghitung kemungkinan kejadian ekstrem ini dalam berbagai skenario.

    Laporan tersebut menemukan bahwa kejadian hujan lebat sekali dalam satu dekade sekarang 1,3 kali lebih mungkin dan 6,7% lebih basah, dibandingkan dengan 50 tahun hingga 1900 ketika pemanasan besar yang disebabkan oleh manusia mulai terjadi, dikutip dari Reuters, 9 Agustus 2021.

    Sebelumnya kekeringan sekali dalam satu dekade bisa terjadi setiap lima atau enam tahun.

    Para ilmuwan menekankan bahwa efek perubahan iklim ini sudah terjadi, dengan peristiwa seperti gelombang panas di Barat Laut Pasifik AS yang menewaskan ratusan orang pada bulan Juni dan Brasil saat ini mengalami kekeringan terburuk dalam 91 tahun.

    "Gelombang panas di Kanada, kebakaran di California, banjir di Jerman, banjir di Cina, kekeringan di Brasil tengah membuatnya sangat, sangat jelas bahwa iklim ekstrem memiliki korban yang sangat berat," kata Paulo Artaxo, penulis utama laporan itu dan seorang fisikawan lingkungan dan Universitas Sao Paulo.

    Masa depan terlihat lebih suram, dengan lebih banyak pemanasan yang berarti lebih sering terjadi peristiwa ekstrem.

    Orang-orang melintasi jembatan yang rusak setelah hujan deras membanjiri desa Gaomiao di Gongyi, provinsi Henan, Cina, Rabu, 21 Juli 2021. China Daily via REUTERS

    Gelombang panas menunjukkan peningkatan frekuensi yang lebih kuat dengan pemanasan daripada semua peristiwa ekstrem lainnya. Dua kali dalam satu abad gelombang panas bisa terjadi kira-kira setiap enam tahun dengan pemanasan 1,5 derajat Celcius, tingkat yang menurut laporan itu bisa dilampaui dalam dua dekade.

    Jika dunia menjadi lebih panas 4 derajat Celcius, seperti yang bisa terjadi dalam skenario emisi tinggi, gelombang panas itu akan terjadi setiap satu hingga dua tahun.

    Carolina Vera, penulis laporan lain dan ilmuwan iklim fisika di University of Buenos Aires dan badan utama penelitian sains Argentina (CONICET), mengatakan ada juga kemungkinan yang meningkat bahwa beberapa peristiwa cuaca ekstrem dapat terjadi pada saat yang bersamaan.

    Misalnya, gelombang panas ekstrem, kekeringan, dan angin kencang, atau kondisi yang dapat memicu kebakaran hutan, lebih mungkin terjadi pada saat yang bersamaan.

    IPCC yakin bahwa banyak wilayah pertanian penting di seluruh dunia akan mengalami lebih banyak kekeringan atau hujan ekstrem, termasuk bagian dari Argentina, Paraguay, Bolivia dan Brasil yang merupakan petani utama kedelai dan komoditas global lainnya.

    "Ini menakutkan, tentu saja, dengan risiko kebakaran, gelombang panas, kekeringan akan mempengaruhi manusia dalam bentuk cuaca dan kerawanan pangan, kerawanan energi, kualitas air dan kesehatan - terutama di daerah miskin," kata Jose Marengo, ahli iklim di pusat pemantauan bencana Kementerian Ilmu Pengetahuan Brasil, yang tidak terlibat dalam laporan IPCC.

    Misalnya, wilayah yang sudah rentan terhadap kekeringan cenderung lebih sering mengalaminya, termasuk di Mediterania, Australia selatan, dan Amerika Utara bagian barat, kata Friederike Otto, penulis IPCC dan ahli iklim di University of Oxford.

    Peningkatan frekuensi kekeringan dan hujan lebat juga tidak saling eksklusif dan diprediksi terjadi di tempat-tempat seperti Afrika Selatan, katanya.

    Proyeksi pada peristiwa cuaca ekstrem yang tercantum dalam laporan memperkuat pentingnya membatasi perubahan iklim ke tingkat yang ditetapkan dalam Perjanjian Iklim Paris, kata para ilmuwan.

    "Jika kita stabil pada 1,5 derajat, kita bisa menghentikan pemanasan global agar tidak semakin parah," kata Otto.

    Baca juga: Kelompok G7 Sepakat Hentikan Pendanaan Batu Bara untuk Atasi Perubahan Iklim

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.