Penutupan Olimpiade Tokyo, Warga Jepang Antara Sedih dan Bahagia

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bendera negara peserta diarak dalam upacara penutupan Olimpiade Tokyo 2020 di Stadion Olimpiade, Tokyo, Jepang, Ahad, 8 Agustus 2021. Olimpiade berikutnya akan diselenggarakan di Kota Paris, Prancis pada 2024. REUTERS/Amr Abdallah Dalsh

    Bendera negara peserta diarak dalam upacara penutupan Olimpiade Tokyo 2020 di Stadion Olimpiade, Tokyo, Jepang, Ahad, 8 Agustus 2021. Olimpiade berikutnya akan diselenggarakan di Kota Paris, Prancis pada 2024. REUTERS/Amr Abdallah Dalsh

    TEMPO.CO, Jakarta - Pesta penutupan Olimpiade Tokyo berlangsung semalam, Minggu, 8 Agustus 2021. Penduduk Jepang mengaku perasaan mereka campur aduk.

    Beberapa warga Jepang berpartisipasi dengan mengambil foto di luar stadion yang disangga oleh penghalang. Sedangkan warga lainnya menghindar dari pesat Olimpiade Tokyo.

    “Saya merasa bersalah bahwa Olimpiade digelar di Jepang mengingat belum selesainya vaksinasi covid-19 untuk sebagian besar populasi, banyak acara dan kegiatan domestik juga telah dibatalkan,” kata warga Tokyo Nozomi Seki tentang Olimpiade Tokyo 2020.

    Saat Olimpiade dimulai, Seki mengatakan awalnya dia senang dengan para atlet yang meraih medali. "Jumlah infeksi di Jepang tumbuh ke level tertinggi yang pernah ada, tetapi sebagian besar (saluran di) TV menayangkan Olimpiade alih-alih membahas situasi Covid, yang terkadang mengganggu saya," katanya.

    "Tetapi ketika para atlet yang memenangkan medali, itu adalah kenyataan bahwa Olimpiade berlangsung, membuat saya tidak terlalu marah kepada pemerintah."

    Kasus COVID-19 di Tokyo mencapai rekor tertinggi dalam seminggu terakhir. Saat ini Jepang mencatat rata-rata tujuh hari hampir 13.000 kasus, angka tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    “(Saya) masih belum yakin (apakah menjadi tuan rumah Olimpiade adalah langkah yang tepat). Tetapi tidak banyak peningkatan kasus positif di antara orang-orang yang terkait dengan Olimpiade, ” kata Seki.

    Menurut laporan baru-baru ini, penyelenggara mencatat 404 infeksi terkait Olimpiade sejak 1 Juli. Mereka melakukan hampir 600.000 tes skrining, dengan tingkat infeksi 0,02 persen.

    Warga Tokyo lainnya, Kio Iwai mengatakan dia sangat gembira ketika Tokyo dipilih untuk menjadi tuan rumah Olimpiade.

    Iwai berpartisipasi dalam Olimpiade sebagai pemimpin tim layanan bahasa di Stadion Nasional Yoyogi. Namun kegembiraannya lenyap menjelang Olimpiade Tokyo, karena ketidakpastian terus berlanjut dan pandemi COVID-19 memburuk.

    “Pada Maret 2021, saya mengetahui bahwa kecil kemungkinan saya akan divaksinasi sebelum Olimpiade. Karena saya mengidap diabetes, saya jadi enggan bergaul dengan orang banyak,” ujarnya.

    Karena Olimpiade terus berjalan sesuai rencana dan tidak ada vaksinasi, akhirnya dia memutuskan tak jadi sukarelawan. Namun Iwai menikmati perhelatan Olimpiade di televisi dan menyebutnya sebagai hiburan berkualitas tinggi.

    Semalam Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC), Thomas Bach, resmi menutup Olimpiade Tokyo 2020. Penutupan Olimpiade Tokyo yang telah berlangsung selama 16 hari, dilakukan dalam upacara di Stadion Nasional (Olympic Stadium) Tokyo, Ahad malam.

    Penutupan tersebut diikuti oleh tarian yang kemudian berlanjut dengan alunan piano "Clair de Lune" dari Claude Debussy, komponis berkebangsaan Prancis, bersamaan menutupnya kaldron api Olimpiade.

    Kembang api menghiasi langit Stadion Nasional Tokyo, kemudian diikuti dengan tulisan digital "Arigato," yang berarti terima kasih dalam bahasa Jepang, terpampang besar.

    Dalam pidato penutupan, Bach berterima kasih pada atlet yang telah berjuang di Olimpiade Tokyo, dan menjunjung tinggi solidaritas di bawah atap Kampung Atlet.

    "Banyak tantangan yang harus dihadapi karena pandemi dan Olimpiade ini menumbuhkan harapan," kata Bach. "Kalian atlet terbaik di dunia yang membuat Olimpiade menjadi nyata."

    Tak lupa, Bach berterima kasih kepada semua relawan atas upaya dan bantuan, sehingga Olimpiade bisa terwujud.

    Bach juga berterima kasih kepada Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga dan Gubernur Tokyo Yuriko Koike, serta Ketua Panitia Olimpiade Tokyo 2020, Seiko Hashimoto. "Terima kasih Jepang, terima kasih Tokyo," ujar Bach.

    REUTERS | CHANNEL NEWS ASIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.