Negara-negara Ini Abaikan WHO, Tetap Berikan Booster Vaksin Corona

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wanita menerima dosis ketiga vaksin Covid-19 di Ramat HaSharon, Israel, 30 Juli 2021. Israel mulai memberikan suntikan ketiga vaksin virus Corona atau dosis penguat (booster) bagi warga berusia 60 tahun ke atas atau lansia. Xinhua/JINI

    Seorang wanita menerima dosis ketiga vaksin Covid-19 di Ramat HaSharon, Israel, 30 Juli 2021. Israel mulai memberikan suntikan ketiga vaksin virus Corona atau dosis penguat (booster) bagi warga berusia 60 tahun ke atas atau lansia. Xinhua/JINI

    TEMPO.CO, Jakarta - Tiga negara yaitu Jerman, Prancis, dan Israel tetap melanjutkan rencana memberikan booster vaksin corona. Hal ini bertentangan dengan seruan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO untuk menunda pemberian booster sampai lebih banyak orang di seluruh dunia sudah divaksinasi.

    Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan Prancis sedang berupaya meluncurkan dosis ketiga vaksin corona mulai September, untuk orang tua dan mereka yang termasuk kelompok rentan. Begitu pula Jerman yang akan memberikan booster kepada pasien immunocompromised, yang sangat tua dan penghuni panti jompo.

    Sementara itu Perdana Menteri Israel Naftali Bennett sejak akhir Juli sudah memulai kampanye untuk memberikan booster vaksin Covid-19 untuk lansia.

    "Siapa pun yang berusia di atas 60 tahun, dan belum menerima dosis ketiga dari vaksin Covid-19, enam kali lebih rentan terhadap penyakit parah dan kematian," kata Bennett.

    Dalam diskusi online dengan publik dan jurnalis, Bennett mengatakan upaya Israel memberikan dosis ketiga vaksin Pfizer- BioNTech kepada orang di atas 60 tahun adalah upaya memerangi varian Delta. Dia berharap pemberian booster itu akan memberikan informasi penting kepada dunia.

    Israel, dengan populasi 9,3 juta, adalah negara kecil yang penggunaan vaksinnya "tidak terlalu mempengaruhi pasokan dunia secara signifikan", tambahnya.

    Badan Kesehatan Dunia atau WHO telah menyerukan setop distribusi vaksin Covid-19 booster atau dosis tambahan sebagai penguat setidaknya sampai akhir September. Alasannya, ketimpangan vaksinasi yang melebar di antara negara kaya dan miskin saat ini.

    Seruan untuk moratorium adalah pernyataan terkuat dari WHO sejauh ini saat negara-negara mengungkap kebutuhan vaccine booster untuk menahan laju penyebaran cepat virus Covid-19 varian Delta. “Saya pahami kebutuhan itu tapi tidak dapat menerima negara-negara yang sudah menggunakan hampir seluruh suplai vaksin global menggunakan lebih banyak lagi,” kata Direktur WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, Rabu 4 Agustus 2021.

    Menurut data WHO, negara-negara berpendapatan tinggi telah membagikan sekitar 50 dosis vaksin Covid-19 untuk setiap 100 warganya pada Mei lalu, dan sejak itu pula angkanya telah berlipat ganda. Sedang negara berpendapatan rendah baru 1,5 dosis untuk setiap 100 warganya, karena memang suplai di dunia yang masih terbatas.

    “Perlu dibalik dulu, dari mayoritas vaksin yang menyebar ke negara-negara kaya ke mayoritas vaksin ke negara-negara miskin,” kata Tedros.

    Namun Jerman menolak tuduhan itu. Jerman menyatakan akan menyumbangkan 30 juta dosis vaksin ke negara-negara miskin. "Kami ingin memberikan vaksinasi ketiga kepada kelompok rentan di Jerman dan pada saat yang sama mendukung vaksinasi sebanyak mungkin orang di dunia," kata kementerian kesehatan.

    Amerika Serikat juga menyatakan siap memberikan suntikan booster vaksin corona jika diperlukan. Hal ini menunjukkan bahwa AS juga tidak akan mengindahkan seruan WHO.

    Produsen vaksin Covid-19, Pfizer mengatakan suntikan booster kemungkinan besar diperlukan karena respons antibodi setelah enam bulan berkurang.

    Baca: Antibodi dari Vaksin Sinovac Melemah dalam 6 Bulan, Tetapi Booster Menguatkan

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.