Jumlah Warga yang Diminta Isoman Kebanyakan, Inggris Ubah Aplikasi COVID-19

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Orang-orang berjalan di stasiun Waterloo, di tengah pandemi penyakit coronavirus (COVID-19), London, Inggris, 19 Juli 2021. [REUTERS/Peter Nicholls]

    Orang-orang berjalan di stasiun Waterloo, di tengah pandemi penyakit coronavirus (COVID-19), London, Inggris, 19 Juli 2021. [REUTERS/Peter Nicholls]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Inggris dan Layanan Kesehatan Nasional (NHS) memperbarui aplikasi COVID-19-nya usai insiden "pingdemic" beberapa pekan lalu. Harapannya, dengan pembaharuan yang ada, jumlah warga yang harus isoman karena kontak dengan mereka yang positif COVID-19 bisa dikurangi.

    Insiden "pingdemic" terjadi di hari Inggris melonggarkan aturan lockdownnya, 19 Juli 2021. Dalam insiden tersebut, warga-warga Inggris diperingatkan aplikasi COVID-19 untuk segera isoman terlepas mereka positif COVID-19 atau tidak. Namun, jumlah mereka yang diminta isoman terlalu banyak, mencapai ribuan.

    Banyaknya warga yang diminta isoman oleh aplikasi COVID-19 menyebabkan operasional berbagai usaha terganggu. Rantai pasokan juga terdampak, menyebabkan berbagai supermarket tidak mendapatkan supplai bahan makanan yang dibutuhkan. Beberapa bahkan kekurangan karyawan.

    "Kami ingin mengurangi disrupsi yang timbul akibat peringatan isoman sembari tetap memastikan aplikasi melindungi warga dari ancaman COVID-19," ujar Menteri Kesehatan Inggris Sajid Javid, dikutip dari kantor berita Reuters, Senin, 2 Agustus 2021.

    Rak kosong telah terlihat dalam beberapa hari terakhir karena banyak pekerja terpaksa mengasingkan diri setelah di-ping oleh aplikasi NHS Inggris.[Sky News]

    Pemerintah Inggris melanjutkan bahwa mereka meminta warga untuk tidak menghapus aplikasi terkait dari gawai masing-masing. Sebab, sesensitif apapun aplikasi buatan NHS itu, peringatan darinya tetap diperlukan sebagai bentuk kewaspadaan.

    Mengacu pada laporan Reuters, sensitifitas aplikasi COVID-19 disebabkan oleh panjangnya periode waktu yang menjadi acuan pelacakan. Sebelum pembaharuan, aplikasi akan mencari orang yang melakukan kontak dengan penderita COVID-19 lima hari sebelum tes. Pada update terbaru, waktunya dikurangi menjadi dua hari saja.

    "Pembaharuan ini diyakini akan mengurangi jumlah notifikasi yang dikirimkan oleh aplikasi. Namun, tidak akan mengurangi sensitivitasnya. Bisa saja dia menangkap jumlah yang sama besarnya (sebelum pembaharuan)," ujar keterangan pers Pemerintah Inggris.

    Per berita ini ditulis, Inggris tercatat memiliki 5,9 juta kasus dan 129 ribu kematian akibat COVID-19. Kasus harian perlahan mulai menurun dari puncaknya, 54 ribu kasus per hari, pada awal Juli kemarin menjadi 24 ribu per hari pada awal Agustus.

    Baca juga: Inggris Hadapi Kekurangan Makanan Karena Pingdemi, Bukan Pandemi COVID-19

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.