Senin, 300 Tentara Australia Kawal Lockdown COVID-19 di Sydney

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah jalan terlihat kosong saat lockdown di Sydney, Australia, Rabu, 28 Juli 2021. Meskipun penguncian diperpanjang di Sydney, ibukota negara bagian, New South Wales mencatat 239 kasus yang didapat secara lokal dalam 24 jam terakhir, kenaikan harian terbesar sejak pandemi dimulai. (Xinhua/Hu Jingchen)

    Sebuah jalan terlihat kosong saat lockdown di Sydney, Australia, Rabu, 28 Juli 2021. Meskipun penguncian diperpanjang di Sydney, ibukota negara bagian, New South Wales mencatat 239 kasus yang didapat secara lokal dalam 24 jam terakhir, kenaikan harian terbesar sejak pandemi dimulai. (Xinhua/Hu Jingchen)

    TEMPO.CO, Jakarta - PM Scott Morrison memastikan bahwa tentara Australia akan dilibatkan dalam pengawalan lockdown COVID-19 di Sydney, New South Wales. Jika tak ada halangan, mereka akan mulai dilibatkan per hari Senin pekan depan. Adapun jumlah personil yang akan dilibatkan kurang lebih 300 orang.

    Komisioner Kepolisian New South Wales, Mic Fuller, menambahkan bahwa para tentara Australia akan membantu personil kepolisian melakukan pengecekan secara door to door. Hal itu untuk memastikan warga yang positif COVID-19 benar-benar menjalani isoman dan tak ada yang melanggar aturan lockdown.

    "Ada peningkatan kepatuhan warga dari ratusan menjadi ribuan (sejak diawasi kepolisian)," ujar Mick Fuller, dikutip dari Reuters, Jumat, 30 Juli 2021.

    Fuller memastikan para tentara Australia tidak akan dipersenjatai selama mengawal lockdown COVID-19. Selain itu, 300 tentara yang ditugaskan akan sepenuhnya berada di bawah komando Kepolisian New South Wales.

    Per berita ini ditulis, Sydney sudah menjalani enam dari total sembilan pekan lockdown COVID-19. Selama lockdown, warga dilarang untuk keluar dari rumah jika bukan untuk alasan yang darurat atau pokok. Selain itu, warga juga wajib memakai masker di setting outdoor dan menjalani tes COVID-19 setiap tiga hari

    Perdana Menteri Australia Scott Morrison merapikan masker saat konferensi pers dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di depan Istana Elysee di Paris, Prancis, 15 Juni 2021. [REUTERS/Pascal Rossignol]

    Mayoritas warga tidak senang dengan lockdown panjang yang diterapkan. Kebijakan itu dianggap berdampak besar terhadap penghidupan mereka. Apalagi, Kepolisian New South Wales diberi hak untuk menutup bisnis yang dirasa melanggar aturan. Sekarang, mereka khawatir dengan dilibatkannya tentara dalam pengawalan lockdown.

    Wali Kota Cumberland, Steve Christou, mengatakan warga merasa diperlakukan tak adil dengan kebijakan lockdown yang ada. Apalagi, lockdown disebabkan oleh lambannya vaksinasi di Australia juga. Sejauh ini, baru 18 persen warga dewasa Australia yang sudah tervaksin penuh.

    "Pemerintah tak tahu harus apa selain melibatkan militer. Mereka kebingungan atas masalah yang mereka ciptakan sendiri."

    "Komunitas di Cumberland kebanyakan adalah warga yang kurang mampu dan mereka tidak pantas menerima lockdown berkepanjangan serta aturan yang ketat," ujar Christou.

    PM Scott Morrison menjanjikan pelonggaran dalam 4 tahap. Saat ini, kata Ia, Australia masih berada di Fase A di mana pengendalian pandemi, tak terkecuali via lockdown, menjadi fokus utama. Fase B, kata ia, di mana pelonggaran akan mulai terasa dan warga bisa lebih bebas beraktivitas. Adapun Fase B tercapai jika 70 persen warga Australia sudah tervaksin.

    Australia, per Jumat kemarin, tercatat memiliki 33 ribu kasus dan 29 ribu kematian akibat COVID-19. Dalam beberapa pekan terakhir, angka kasus per hari terus naik dari yang awal 20 kasus per hari di bulan Mei menjadi 250 kasus per hari di bulan Juli. 

    Baca juga: Warga Australia Ramai-ramai Sewa Kapal Laut Tinggalkan Indonesia

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.