Inggris Prediksi 50 Persen Penduduk Myanmar Positif COVID-19 Dua Pekan ke Depan

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Demonstran menunjukkan salam tiga jari selama protes untuk solidaritas terhadap Pasukan Pertahanan Rakyat Mandalay, di Yangon, Myanmar 22 Juni 2021, dalam tangkapan layar yang diperoleh Reuters dari video media sosial.[REUTERS]

    Demonstran menunjukkan salam tiga jari selama protes untuk solidaritas terhadap Pasukan Pertahanan Rakyat Mandalay, di Yangon, Myanmar 22 Juni 2021, dalam tangkapan layar yang diperoleh Reuters dari video media sosial.[REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Duta Besar Inggris Barbara Woodward menyampaikan bahwa kondisi pandemi COVID-19 di Myanmar mengkhawatirkan. Minimnya upaya pengendalian dan pencegahan menyebabkan kasus COVID-19, kata ia, naik dengan cepat. Saking cepatnya, Woodward memprediksi 50 persen penduduk Myanmar akan positif COVID-19 dalam dua pekan ke depan.

    "Kudeta Myanmar telah menyebabkan kolapsnya sistem layanan kesehatan di sini. Di saat bersamaan, pekerja medis diserang dan ditahan," ujar Woodward pada diskusi informal Dewan Keamanan Myanmar, dikutip dari kantor berita Reuters, Jumat, 30 Juli 2021.

    Sebagaimana diketahui, minimnya pengendalian dan pencegahan COVID-19 di Myanmar tak lepas dari kudeta yang dilakukan Jenderal Min Aung Hlaing pada 1 Februari lalu. Kudeta tersebut menyebabkan berbagai petugas medis dan dokter berhenti dari pekerjaannya, tak terkecuali vaksinasi COVID-19, sebagai bentuk protes. Belakangan, para dokter dan tenaga medis itu ditangkapi karena menentang junta.

    Awalnya, penangkapan mereka tidak memberikan dampak signifikan terhadap pandemi COVID-19 di Myanmar. Namun, seiring berjalannya waktu, di mana varian-varian baru COVID-19 bermunculan, Myanmar mulai kelimpungan. Kasus terus bertambah sementara upaya pencegahan, pengendalian, maupun vaksinasi tak maksimal. Hal itu diperburuk sanksi ekonomi dari berbagai negara.

    Pemimpin junta Myanmar Jenderal Senior Min Aung Hlaing, yang menggulingkan pemerintah terpilih dalam kudeta pada 1 Februari, memimpin parade militer pada Hari Angkatan Bersenjata di Naypyitaw, Myanmar, 27 Maret 2021. [REUTERS / Stringer]

    Kabar terakhir, Min Aung Hlaing meminta tolong kepada komunitas internasional untuk membantunya menghadapi pandemi COVID-19. ASEAN adalah salah satu yang ia hubungi lebih dulu mengingat organisasi itu juga berupaya mengirim bantuan kemanusiaan ke Myanmar. Adapun salah satu kebutuhan utama Myanmar adalah vaksin COVID-19 karena angka vaksinasi yang masih kecil, kurang dari 10 persen.

    "Virus menyebar dengan sangat cepat. Dengan berbagai estimasi, dua pekan ke depan, separuh dari populasi Myanmar bisa tertular vaksin COVID-19," ujar Woodward menegaskan.

    Per Rabu kemarin, Myanmar mencatatkan 4.980 kasus dan 365 kematian baru akibat COVID-19. Angka total secara nasional ada 284.099 kasus dan 8.210 kematian. Adapun angka tersebut diragukan berbagai pihak sebagai gambaran yang representatif atas situasi pandemi di Myanmar.

    Belum lama ini, Myanmar menerima dua juta vaksin COVID-19 dari Cina. Namun, jumlah itu hanya mampu mengcover 3,2 persen dari total populasinya.

    Baca juga: Dilanda Pandemi COVID-19 dan Terisolir, Junta Myanmar Minta Tolong

    REUTERS | ISTMAN MP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.