Prancis Kesal Dikecualikan Inggris dari Kebijakan Bebas Karantina

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Orang-orang, beberapa mengenakan masker, berjalan di atas Jembatan Westminster, di tengah pandemi penyakit virus corona (COVID-19), di London, Inggris, 4 Juli 2021.[REUTERS/Henry Nicholls]

    Orang-orang, beberapa mengenakan masker, berjalan di atas Jembatan Westminster, di tengah pandemi penyakit virus corona (COVID-19), di London, Inggris, 4 Juli 2021.[REUTERS/Henry Nicholls]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Prancis menyesalkan keputusan Inggris mengecualikan mereka dari kebijakan bebas karantina. Menurut mereka, keputusan tersebut diskriminatif dan tidak masuk akal mengingat negara-negara Uni Eropa lainnya diperlakukan berbeda.

    Diberitakan sebelumnya, Inggris akhirnya melonggarkan kebijakan COVID-19 miliknya untuk para pendatang dari Amerika dan Uni Eropa. Selama mereka tervaksinasi penuh, pendatang dari keduanya tidak wajib menjalani karantina yang selama ini harus dibiayai sendiri. Walau begitu, mereka tetap wajib berangkat dan tiba dalam keadaan negatif COVID-19.

    Dari sekian negara Uni Eropa yang dibebaskan dari wajib karantina, hanya Prancis yang dikecualikan. Pertimbangan Inggris, varian Beta COVID-19 terdeteksi di Prancis. Alhasil, pendatang dari Prancis, baik warga asli ataupun warga Inggris, wajib menjalani karantina dengan biaya sendiri.

    "Berlebihan dan tidak masuk akal berdasarkan ilmu kesehatan. Keputusan itu tidak berdasarkan data ilmiah dan diskriminatif terhadap warga Prancis," ujar Menteri Eropa Prancis, Clement Beaune, dikutip dari kantor berita Reuters, Kamis, 29 Juli 2021.

    Beaune berharap Inggris mengkaji kembali dan merevisi kebijakan karantina tersebut sebelum berlaku. Jika tak ada halangan, Inggris akan mulai menerapkan bebas karantina untuk mereka yang tervaksin penuh per pekan depan.

    "Untuk sementara ini, kami tidak memiliki rencana untuk melakukan pendekatan tit-for-tat," ujar Beaune menambahkan.

    Terlepas protes dari Prancis, keputusan Inggris untuk membebaskan pendatang asal Amerika dan Uni Eropa (yang tervaksin penuh) dari wajib karantina diapresiasi berbagai pelaku usaha. Terutama, mereka yang bekerja di sektor pariwisata. Menurut mereka, keputusan itu tepat datangnya karena liburan musim panas akan datang.

    Di pasar saham, keputusan Inggris juga berdampak pada nilai-nilai maskapai penerbangan. Nilai saham British Airways naik 3 persen, EasyJet 4 persen, dan Wizz Air 7 persen. EasyJet mengaku bakal langsung memanfaatkan momentum ini dengan menambah jumlah penerbangan pulang pergi Inggris - Eropa.

    Baca juga: Inggris: Pendatang Amerika dan Eropa yang Tervaksin Penuh Tak Wajib Karantina

    REUTERS | ISTMAN MP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.