Myanmar Dilanda Banjir, Ratusan Orang Mengungsi di Tengah Pandemi Covid-19

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Demonstran menunjukkan salam tiga jari selama protes untuk solidaritas terhadap Pasukan Pertahanan Rakyat Mandalay, di Yangon, Myanmar 22 Juni 2021, dalam tangkapan layar yang diperoleh Reuters dari video media sosial.[REUTERS]

    Demonstran menunjukkan salam tiga jari selama protes untuk solidaritas terhadap Pasukan Pertahanan Rakyat Mandalay, di Yangon, Myanmar 22 Juni 2021, dalam tangkapan layar yang diperoleh Reuters dari video media sosial.[REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Ratusan orang di Myanmar kehilangan tempat tinggal setelah banjir menerjang negara ini. Banjir membuat upaya penanganan virus corona melambat di tengah kekacauan politik setelah kudeta militer di negara Asia Tenggara tersebut.

    Seperti dikutip dari Reuters, hujan deras di negara bagian selatan pada akhir pekan lalu menyebabkan banjir di beberapa kota. Petugas kesehatan terpaksa memindahkan pasien COVID-19 ke daerah kering.

    "Ratusan rumah terendam air dan hanya atapnya yang terlihat," kata Pyae Sone, seorang pekerja sosial di kota Kayin, Hlaingbwe, kepada Reuters melalui telepon. Air mulai naik pada Senin pagi.

    "Covid menyebar di kota. Ada begitu banyak orang yang kehilangan indra penciuman dan banyak yang sakit, tidak jelas apakah itu COVID atau flu musiman," ujarnya.

    Foto-foto yang beredar di Facebook, sekelompok sukarelawan dan pekerja medis menyeret pasien yang terbaring di tempat tidur. Pasien itu masih terhubung ke tangki oksigen, di atas air banjir yang keruh di kota Kayin, Myawaddy.

    Sekitar 500 daerah pemukiman di sepanjang perbatasan Thailand terkena dampak banjir. Bo Bo Win, kepala badan amal di kota Mawlamyine, mengatakan setidaknya 500 orang di sana menderita banjir tahunan.

    "Banjir tahun ini tidak separah tahun 2019, tapi kami berada di tengah pandemi," tambah Bo Bo Win.

    Kasus Covid-19 di Myanmar terus naik sejak Juni. Pada Senin, 26 Juli 2021, terdapat 4.630 kasus dan 396 angka kematian.

    Di tengah pandemi Covid-19, militer Myanmar disebut-sebut menangkap sejumlah dokter yang memprotes kudeta yang dilakukan oleh junta. Militer menangkap beberapa dokter yang merawat pasien covid-19 secara mandiri.

    Menurut sumber di media, penangkapan dokter dilakukan saat Myanmar sedang menghadapi kenaikan gelombang covid-19.

    Sejak militer menggulingkan pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi pada Februari, gelombang protes terjadi di Myanmar. Sejumlah dokter ditangkap karena terlibat dalam protes tersebut.

    Baca: Kelompok Pemberontak Myanmar Mendapat Vaksin COVID-19 dari Cina

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.