Penguasaha Najib Mikati Mendapat Dukungan untuk Jadi Perdana Menteri Lebanon

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan perdana menteri Lebanon, Saad al-Hariri dan Najib Mikati saling menyapa di Beirut, Lebanon 25 Juli 2021. [Dalati Nohra/Handout via REUTERS]

    Mantan perdana menteri Lebanon, Saad al-Hariri dan Najib Mikati saling menyapa di Beirut, Lebanon 25 Juli 2021. [Dalati Nohra/Handout via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Lebanon Michel Aoun pada Senin mengadakan pertemuan singkat dengan pengusaha terkemuka Najib Mikati, yang akan menerima dukungan dari mayoritas anggota parlemen di kemudian hari untuk mencoba membentuk pemerintahan.

    Mikati, yang telah menjadi perdana menteri dua kali sebelumnya dan tidak seperti banyak pemimpin Lebanon tidak berasal dari blok politik atau dinasti, tidak memberikan pernyataan apapun setelah pertemuan yang secara resmi memulai konsultasi untuk menunjuk seorang perdana menteri, menurut laporan Reuters, 26 Juli 2021.

    Seperti calon sebelumnya, Saad al-Hariri, Mikati menghadapi tantangan besar dalam menavigasi struktur pembagian kekuasaan Lebanon untuk mengamankan kesepakatan pada kabinet untuk mengatasi krisis keuangan yang melumpuhkan.

    Saat Lebanon telah dijalankan oleh pemerintahan sementara selama hampir satu tahun sejak ledakan besar menghancurkan sebagian besar Beirut, mata uangnya telah runtuh, pekerjaan telah hilang dan bank telah membekukan rekening.

    Kejatuhan ekonomi adalah krisis terburuk Lebanon sejak perang saudara 1975-1990.

    Hizbullah, gerakan Islam Syiah bersenjata lengkap yang dianggap Amerika Serikat sebagai kelompok teroris, menominasikan Mikati dalam konsultasi hari Senin dan sebagian besar blok parlemen utama mendukung pencalonan tersebut.

    "Hari ini, dengan tanda-tanda yang mengisyaratkan kemungkinan pembentukan pemerintahan...itu sebabnya kami mengusung Mikati, untuk memberikan dorongan ekstra untuk memfasilitasi pembentukan pemerintahan," Muhammad Raad, pemimpin blok parlemen Hizbullah.

    Mantan perdana menteri Lebanon, Saad al-Hariri, Najib Mikati, Fouad Siniora dan Tammam Salam bertemu di Beirut, Lebanon 25 Juli 2021. [Dalati Nohra/Handout via REUTERS]

    Najib Mikati mendapatkan cukup suara dalam konsultasi parlemen pada Senin untuk dinominasikan sebagai perdana menteri baru Lebanon, mendapat 73 suara dari 118 anggota parlemen, Reuters melaporkan.

    Di antara pendukung Mikati adalah Hariri, yang meninggalkan tawaran untuk membentuk pemerintahan baru minggu lalu setelah hampir 10 bulan gagal menyepakati susunannya dengan Aoun.

    Hariri mengatakan kepada wartawan setelah bertemu Aoun bahwa dia berharap Mikati akan dipilih dan berhasil membentuk kabinet.

    "Negara ini memiliki kesempatan hari ini," katanya.

    Berita kemungkinan penunjukan Mikati mendorong pound Lebanon di pasar paralel tidak resmi, di mana dolar berpindah tangan sekitar 16.500 pound, dibandingkan dengan lebih dari 22.000 pound pada puncak kebuntuan pemerintah.

    Dalam sistem politik Lebanon, jabatan perdana menteri harus dipegang oleh seorang Muslim Sunni, sedangkan kursi kepresidenan dipegang oleh seorang Kristen Maronit.

    Pemerintah Barat telah mendesak Lebanon, salah satu negara dengan utang terbanyak di dunia, untuk membentuk pemerintahan yang dapat mengatur reformasi negara yang korup. Mereka mengancam akan menjatuhkan sanksi dan mengatakan dukungan keuangan tidak akan mengalir sebelum reformasi Lebanon dimulai.

    Baca juga: Eksklusif: Duta Besar Hajriyanto Ungkap Sebab Krisis Ekonomi Lebanon

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.