Selandia Baru Terima Kembali Warganya yang Eks ISIS

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • PM Selandia Baru, Jacinda Ardern, berpidato dalam peringatan serangan teror jamaah masjid atau National Remembrance Service di lapangan Hagley Park, Christchurch, pada Jumat, 29 Maret 2019.

    PM Selandia Baru, Jacinda Ardern, berpidato dalam peringatan serangan teror jamaah masjid atau National Remembrance Service di lapangan Hagley Park, Christchurch, pada Jumat, 29 Maret 2019.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Selandia Baru menyetujui pemulangan Suhayra Aden, 26 tahun, warganya yang dituduh bergabung dengan kelompok teroris ISIS.

    Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan telah menyetujui permintaan pemerintah Turki untuk menerima menerima kembali Aden.

    Wanita dan kedua dua anaknya yang masih kecil itu ditangkap dan ditahan oleh imigrasi Turki. Mereka mencoba memasuki Suriah pada awal 2021. Pihak berwenang Turki telah meminta Selandia Baru memulangkan keluarga tersebut.

    "Selandia Baru tidak mudah mengambil langkah ini. Kami telah mempertimbangkan tanggung jawab internasional serta perincian kasus ini, termasuk fakta bahwa anak-anak terlibat," kata Jacinda Ardern dalam sebuah pernyataan setelah rapat kabinet di Wellington.

    Aden memiliki dua kewarganegaraan yaitu Selandia Baru dan Australia. Keluarganya pindah ke Australia ketika dia berusia enam tahun. Ia dibesarkan di Australia sebelum berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS pada 2014. Ia menggunakan paspor Australia.

    Namun pemerintah Australia mencabut kewarganegaraannya dan menolak membatalkan keputusan tersebut meski ada permintaan dari Selandia Baru. Ardern mengatakan Australia salah karena melepaskan tanggung jawab secara sepihak dengan membatalkan kewarganegaraan wanita tersebut.

    Australia menjamin akan berkonsultasi dengan Selandia Baru jika kasus serupa muncul di masa mendatang. Ihwal kapan tersangka eks ISIS kembali ke Selandia Baru, masih dirahasiakan.

    Pihak berwenang Turki mengatakan bahwa wanita berumur 26 itu adalah anggota teroris DAESH atau Negara Islam. Hal itu diketahui dari pemberitahuan interpol.

    "Setiap warga Selandia Baru yang dicurigai terkait kelompok teroris harus diselidiki berdasarkan hukum Selandia Baru, tetapi itu akan menjadi urusan Polisi," kata Jacinda Ardern seperti dikutip dari Reuters.

    Pengacara Deborah Manning, yang mewakili keluarga tersebut mengatakan bahwa Suhayra Aden menunggu kepulangannya ke Selandia Baru. Ia siap kehidupan baru bersama anak-anaknya di sana.

    "Seperti ibu mana pun, fokusnya adalah anak-anaknya. Dia ingin anak-anaknya memiliki kehidupan normal sebanyak mungkin. Ini jelas merupakan waktu yang sulit bagi dia dan anak-anak," kata Manning seperti dikutip dari nzherald.co.nz.

    Baca: Selandia Baru Kirim Bantuan ke Indonesia untuk Tangani Covid-19

    DEWI | REUTERS | NZHERALD


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.