Bankir Prancis Mogok Makan di Olimpiade Tokyo, Rebutan Anak dengan Istri

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Perdagangan Anak. humanium.org

    Ilustrasi Perdagangan Anak. humanium.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang pria warga negara Prancis, Vincent Fichot melakukan aksi mogok makan di luar salah satu stadion Olimpiade Tokyo. Ia mengaku belum makan selama hampir dua pekan.

    Fichot, 39 tahun, memprotes hukum di Jepang yang melegalkan anak-anak dari korban perceraian, untuk diasuh secara sepihak oleh salah satu orang tua. Ia menyatakan hal itu adalah penculikan anak-anak secara legal.

    Bankir di Nomura ini berpisah dari istrinya seorang warga negara Jepang pada 2018. Saat pulang kerja, ia tak mendapati istri dan kedua anaknya di rumah. Sejak itu, ia tak pernah bertemu putranya yang berusia 6 tahun dan putrinya berusia 4 tahun. Ia tak mengetahui di mana ketiga anggota keluarganya tersebut berada.

    Tindakan dramatis itu dilakukan saat Tokyo sedang musim panas. Ia ingin penderitaannya sebagai orang tua yang tak bisa bertemu anak, diberi perhatian oleh pemerintah.

    Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan akan mengangkat soal hak asuh ini ketika bertemu Perdana Menteri Yoshihide Suga pada Sabtu, 24 Juli 2021. Macron adalah satu-satunya kepala negara G7 yang mengunjungi Jepang dalam pesta Olimpiade Tokyo ini.

    Tidak seperti banyak negara, Jepang tak mengizinkan hak asuh ganda atas anak-anak. Dalam beberapa kasus, satu orang tua mengambil anak-anak dan memblokir kontak dengan yang lain. Isu yang paling sering menarik perhatian dalam kasus suami asing yang bercerai dari wanita Jepang.

    "Penculikan anak yang tidak dikriminalisasi adalah sah dan didorong oleh otoritas Jepang. Mereka menolak untuk mengambil tindakan," kata Fichot kepada Reuters.

    Fichot yang sudah berkemah sejak 10 Juli, menginginkan kompensasi untuk anak-anaknya. Jika itu tidak berhasil, dia mengancam akan melakukan mogok makan sampai mati. "Saya akan pergi sampai akhir."

    Fichot telah meluncurkan petisi online mencari dukungan agar bertemu kembali dengan anak-anaknya. Petisi itu hingga Jumat malam telah menerima lebih dari 24.000 tanda tangan.

    Kementerian Kehakiman Jepang tak menjawab panggilan telepon dari Reuters. Pada 2019, Menteri Kehakiman Yoko Kamikawa mengatakan bahwa anak-anak dari orang tua yang bercerai, akan diasuh bersama.

    Adapun Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi mengatakan dia tidak bisa mengomentari kasus Fischot. "Harus diselesaikan antara pihak-pihak yang terlibat sesuai dengan hukum domestik," ujarnya.

    DEWI | REUTERS | THE GUARDIAN 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.