Disadap Dengan Spyware Pegasus, Presiden Emmanuel Macron Ganti Telepon

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Prancis Macron menghadiri konferensi video KTT Iklim, di Istana Elysee di Paris, Prancis, 22 April 2021. [Ian Langsdon / Pool via REUTERS]

    Presiden Prancis Macron menghadiri konferensi video KTT Iklim, di Istana Elysee di Paris, Prancis, 22 April 2021. [Ian Langsdon / Pool via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Merespon kabar dirinya disadap dengan spyware Pegasus, Presiden Prancis Emmanuel Macron memutuskan untuk mengganti gawai dan nomor telepon miliknya. Menurut Pemerintah Prancis, hal itu dilakukan sebagai langkah antisipasi meski investigasi soal peretasan dan penyadapan terkait masih berjalan.

    "Dia memiliki sejumlah nomor telepon. Meski hal ini tidak berarti mengkonfirmasi ia sudah diretas, langkah antisipasi perlu diambil," ujar juru bicara Pemerintah Prancis, Gabriel Attal, dikutip dari kantor berita Reuters, Kamis, 22 Juli 2021.

    Diberitakan sebelumnya, laporan investigasi gabungan 17 organisasi media mengungkapkan bahwa spyware Pegasus buatan perusahaan Israel NSO telah disalahgunakan. Piranti mata-mata yang sejatinya ditujukan untuk memantau teroris dan kriminal tersebut malah digunakan untuk meretas dan menyadap jurnalis, politisi, dan pengusaha.

    Total ada 50 ribu nomor telepon yang dikabarkan telah diretas dan disadap via spyware Pegasus. Sebanyak 14 di antaranya disebut milik kepala negara yang salah satunya adalah Emmanuel Macron.

    Spyware pegasus. Thequint.com

    Perihal penyadapan ke Macron, media lokal Prancis Le Monde dan Radio France menyatakan penyadapan tersebut dilakukan atas nama Marokko. Hal itu masih berupa dugaan, namun Marokko sudah menyanggahnya.

    "Kami menanggapi isu ini dengan sangat serius," ujar Gabriel Attal menegaskan.

    Sementara itu, di Jerman, Kanselir Angela Merkel menyatakan tak seharusnya spyware seperti Pegasus dijual dan digunakan secara bebas. Menurutnya, spyware Pegasus tidak boleh dijual kepada negara yang tidak menjalankan pengawasan yudisial terhadap penggunaannya.

    Di Israel, administrasi PM Naftali Bennett membentukan satgas lintas kementerian untuk menginvestigasi bagaimana bisa spyware Pegasus sampai disalahgunakan. Tujuannya, untuk mencegah hal serupa terulang. Secara bersamaan, Parlemen Israel tengah mengkaji kemungkinan menahan ekspor/ penjualan spyware Pegasus.

    NSO, selaku pengembang spyware Pegasus, mengatakan produknya tidak dijual sembarangan dan calon pembelinya diseleksi ketat. Alhasil, hanya 45 negara yang bisa membelinya dengan 90 negara yang ikut memesan ditolak. Selain itu, NSO juga mengklaim bisa memutus sistem spyware Pegasus jika pembeli ketahuan menyalahgunakannya.

    Baca juga: Dipakai untuk Sadap Presiden, Israel Kaji Pembatasan Ekspor Spyware Pegasus

    REUTERS | ISTMAN MP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.