Inggris Hadapi Kekurangan Makanan Karena Pingdemi, Bukan Pandemi COVID-19

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung mendorong troli yang penuh dengan barang di supermarket Sainsburys di tengah penyebaran virus Corona di Watford, Inggris, 19 Maret 2020. REUTERS/Paul Childs

    Pengunjung mendorong troli yang penuh dengan barang di supermarket Sainsburys di tengah penyebaran virus Corona di Watford, Inggris, 19 Maret 2020. REUTERS/Paul Childs

    TEMPO.CO, Jakarta - Peringatan aplikasi Layanan Kesehatan Nasional Inggris, NHS, kepada ratusan ribu pekerja agar mereka isoman di hari pencabutan lockdown COVID-19 berdampak besar. Dikutip dari kantor berita Reuters, hal itu menyebabkan gangguan SDM di lapangan yang berimbas pada rantai pasokan di Inggris. Salah satu efeknya, stok bahan makanan di supermarket dan pasar menjadi minim.

    "Kami sangat khawatir akan situasi ini dan terus memonitornya," ujar Menteri Bisnis Inggris Kwasi Kwarteng, Kamis, 22 Juli 2021.

    Di beberapa supermarket, rak-rak makanan dan minuman sudah kosong, ludes disikat pembeli. Hanya beberapa toko yang masih memiliki stok. Beberapa barang yang banyak diburu adalah air botol, minuman ringan, sayur-sayuran, serta daging olahan.

    Salah satu jaringan supermarket terbesar di Inggris, Sainsbury, menyatakan bahwa bahan makanan dan minuman masih ada, tak sepenuhnya habis. Walau begitu, tidak semua merk tersedia karena rantai pasokan terganggu.

    "Kami bekerja keras untuk memastikan pelanggan kami tetap dapat membeli apa yang mereka butuhkan."

    "Kami tidak bisa menyetok segala produk yang dicari pelanggan di setiap toko kami. Walau begitu, kami tetap berupaya mengirim produk-produk dalam jumlah besar secepat mungkin," ujar keterangan pers Sainsbury.

    Pengunjung mengantre saat masuk supermarket Sainsburys di tengah penyebaran virus Corona di Watford, Inggris, 19 Maret 2020. REUTERS/Paul Childs

    Hal senada tidak dialami oleh jaringan supermarket Iceland. Mereka mengaku terpaksa menutup sejumlah toko karena kekurangan pekerja. Jadi, problem yang dihadapi tidak hanya suplai produk berkurang, tapi tenaga kerja juga minim.

    "Kami sebenarnya sudah memiliki masalah kekurangan kurir karena berbagai alasan. Sekarang, hal itu diperburuk peringatan NHS. kami mulai melihat masalah ketersediaan produk dan pekerja," ujar keterangan pers Iceland.

    Apabila mengacu pada durasi isoman, maka masalah yang disebut media-media inggris sebagai Pingdemic ini bisa bertahan lumayan lama. Kurang lebih dua pekan karena durasi isoman yang disampaikan aplikasi NHS adalah 10 hari.

    Bisnis yang terdampak sesungguhnya tidak hanya supermarket saja. Bisnis hospitality, manufaktur, dan media juga terdampak pingdemic. Menurut laporan Reuters, beberapa pekerja dan perusahaan mengakalinya dengan menghapus aplikasi NHS dari gawai mereka walaupun dilarang oleh Pemerintah Inggris.

    "Pemerintah harus merespon masalah ini sesegera mungkin. Pekerja retail dan suplier perlu diperbolehkan bekerja selama sudah tervaksin penuh dan bisa menunjukkan hasil tes negatif COVID-19. Ini agar tidak ada gangguan pada rantai pasokan," ujar Direktur Makanan dan Keberlanjutan Hidup dari Konsorsium Retail Inggris, Andrew Opie.

    Baca juga: Di Hari Pelonggaran Lockdown COVID-19, NHS Inggris Malah Minta Warga Isoman

    REUTERS | ISTMAN MP



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.