Cina Tidak Kesampingkan Hipotesis Virus COVID-19 Berasal dari Kebocoran Lab

Anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki asal muasal virus corona atau COVID-19 mengunjungi pameran tentang Cina memerangi Covid-19 di Wuhan, provinsi Hubei, Cina, 30 Januari 2021. Anggota WHO menyelidiki asal-usul Covid-19 dengan mengunjungi sebuah rumah sakit yang pertama menangani pasien Covid-19. REUTERS/Thomas Peter

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Cina menolak rencana WHO menggelar investigasi asal-usul COVID-19 tahap kedua. Menurut Pemerintah Cina, rencana tersebut tidak masuk akal, bahkan menyangkal ilmu pengetahuan, karena menekankan pada hipotesis virus COVID-19 berasal dari kebocoran laboratorium virologi Wuhan yang tak ada buktinya.

Meski menolak investigasi tahap kedua saat ini, Cina tidak sepenuhnya menutup kemungkinan hal itu digelar di kemudian hari. Salah satu pakar epidemi Cina yang mendampingi investigasi pertama WHO, Liang Wannian, mengatakan bahwa hipotesis kebocoran lab bisa ditinjau dan diselidiki kembali jika memang ada buktinya.

"Kami menyakini kebocoran di lab sangat-sangat mustahil dan tak perlu menghabiskan energi dan usaha untuk menyelidiki hal itu," ujar Lang Wannian, dikutip dari kantor berita Reuters, Kamis, 22 Juli 2021.

Liang Wannian melanjutkan, jika memang ada bukti virus COVID-19 berasal dari kebocoran lab, ia ingin investigasi tak dibatasi di Cina. Ia ingin WHO meninjau kemungkinan bahwa kebocoran lab terjadi di negara lain. Sebagai catatan, Cina sempat menebar teori bahwa Amerika lah yang membawa COVID-19 ke mereka.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah pakar WHO merasa investigasi asal-usul COVID-19 yang mereka lakukan di Wuhan, Cina, awal 2021 lebih seperti audit. Sebab, selama di lokasi investigasi, peran mereka lebih seperti mengkonfirmasi data-data yang diberikan Cina. Selain itu, akses mereka ke data mentah dan lokasi-lokasi yang diyakini sebagai asal COVID-19 juga dibatasi. Oleh karenanya, mereka menginginkan investigasi kedua.

Kata "COVID-19" tercermin dalam setetes jarum suntik dalam ilustrasi yang diambil pada 9 November 2020. [REUTERS / Dado Ruvic / Ilustrasi]

Cina, per berita ini ditulis, mengatakan akses ke data-data mentah tidak bisa mereka setujui. Masalah privasi menjadi pertimbangan mereka.

"Kami harap WHO akan meninjau kembali masukan dan rekomendasi yang diberikan pakar-pakar Cina serta memperlakukannya sebagai materi ilmiah. Singkirkan agenda politik," ujar Wakil Menteri Komite Kesehatan Nasional Cina, Zeng Yixin.

Ini bukan pertama kalinya Cina memprotes rencana investigasi asal-usul COVID-19 oleh WHO. Pada investigasi tahap pertama, Cina pun segan mendukungnya. Sebab, investigasi itu diusulkan oleh Amerika dan Australia yang notabene berkonflik dengan Cina. Cina menganggap usulan keduanya bernada politis dan investigasi asal-usul COVID-19 hanyalah jalan untuk menyudutkan Negeri Tirai Bambu.

Cina baru menyetujui usulan investigasi setelah diyakinkan bahwa mereka akan dilibatkan dalam proses investigasi. Namun, di lapangan, Cina memanfaatkan hal tersebut untuk membatasi proses investigasi yang menyebabkan proses pelaksanaan molor dari jadwal.

Adanya dorongan untuk investigasi kedua asal-usul COVID-19 tak lepas dari kembali naiknya isu COVID-19 diciptakan di lab. Bulan Mei lalu, Presiden Amerika Joe Biden memerintahkan agensi-agensi intelijennya untuk menyelidiki kembali dugaan COVID-19 bermula dari kebocoran di laboratorium virologi Wuhan.

Baca juga: Cina Tolak WHO Selidiki Lagi Asal-usul Virus Corona dari Lab Wuhan

REUTERS | ISTMAN MP






Balon Mata-mata Cina Terbang di Atas Situs Militer AS, Sempat Mau Ditembak

2 jam lalu

Balon Mata-mata Cina Terbang di Atas Situs Militer AS, Sempat Mau Ditembak

Amerika Serikat mengklaim balon mata-mata Cina terbang di atas situs militer beberapa hari sebelum Menlu AS Anthony Blinken ke negara tersebut.


Polusi Udara Bangkok Memburuk, Warga Diminta Berdiam di Rumah

4 jam lalu

Polusi Udara Bangkok Memburuk, Warga Diminta Berdiam di Rumah

Konsentrasi partikel kecil dan berbahaya di udara, atau PM2.5, di Bangkok mencapai 14 kali lipat dari tingkat yang direkomendasikan WHO


Hong Kong Undang Kedatangan Pelancong dengan Tawarkan 500 Ribu Penerbangan Gratis

14 jam lalu

Hong Kong Undang Kedatangan Pelancong dengan Tawarkan 500 Ribu Penerbangan Gratis

Hong Kong telah menutup diri selama hampir tiga tahun terakhir dalam upaya untuk menangkal Covid-19.


Khawatir Ancaman Cina, Filipina Berikan AS Akses Lebih Luas ke Pangkalan Militernya

15 jam lalu

Khawatir Ancaman Cina, Filipina Berikan AS Akses Lebih Luas ke Pangkalan Militernya

Cina menegaskan akses AS yang lebih luas ke pangkalan militer Filipina dapat mengganggu stabilitas regional dan meningkatkan ketegangan.


Diduga Jadi Mobil Listrik Esemka, Neta V Sulitkan Tesla di Pasar Cina

20 jam lalu

Diduga Jadi Mobil Listrik Esemka, Neta V Sulitkan Tesla di Pasar Cina

Neta V diduga menjadi mobil listrik Esemka. SUV listrik ini diklaim menyulitkan Tesla di pasar otomotif Cina.


Menkes Beri Penghargaan Kontribusi Penanganan Covid-19 kepada AMSI

1 hari lalu

Menkes Beri Penghargaan Kontribusi Penanganan Covid-19 kepada AMSI

AMSI dinilai telah memberikan kontribusi penting khususnya dalam penyebaran informasi tentang Covid-19 dan pencegahan hoaks selama pandemi.


Amerika Serikat dan India Kerja Sama Senjata hingga AI untuk Tandingi Cina

1 hari lalu

Amerika Serikat dan India Kerja Sama Senjata hingga AI untuk Tandingi Cina

Washington meluncurkan kemitraan Amerika Serikat dengan India di bidang teknologi dan pertahanan untuk menandingi pengaruh Cina.


Jokowi Cerita Kebingungannya di Awal Pandemi Covid-19 hingga Tolak Lockdown

1 hari lalu

Jokowi Cerita Kebingungannya di Awal Pandemi Covid-19 hingga Tolak Lockdown

Jokowi menyebut akibat kegagapan menangani pandemi, terjadi turbulensi ekonomi dan membuat pertumbuhan ekonomi jatuh.


Korea Selatan Pertimbangkan Cabut Pembatasan Visa untuk Pelancong Cina

1 hari lalu

Korea Selatan Pertimbangkan Cabut Pembatasan Visa untuk Pelancong Cina

Korea Selatan telah menangguhkan pemberian visa jangka pendek kepada pengunjung Cina sejak awal Januari.


Jepang Akan Anggap Covid-19 Sebagai Flu Biasa Musim Semi Ini, Apa Dampaknya?

2 hari lalu

Jepang Akan Anggap Covid-19 Sebagai Flu Biasa Musim Semi Ini, Apa Dampaknya?

Sebelumnya, Jepang bahkan mengumumkan akan mempertimbangkan untuk melonggarkan rekomendasi penggunaan masker.