Profil Danish Siddiqui, Wartawan Reuters Tewas di Afganistan

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fotografer Reuters, Danish Siddiqui berpose di Kabul, Afghanistan, 8 Juli 2021. Danish saat itu tengah bergabung dengan konvoi pasukan Afghanistan yang disergap oleh gerilyawan Taliban di dekat pos perbatasan utama dengan Pakistan. REUTERS/Mohammad Ismail

    Fotografer Reuters, Danish Siddiqui berpose di Kabul, Afghanistan, 8 Juli 2021. Danish saat itu tengah bergabung dengan konvoi pasukan Afghanistan yang disergap oleh gerilyawan Taliban di dekat pos perbatasan utama dengan Pakistan. REUTERS/Mohammad Ismail

    TEMPO.CO, Jakarta - Danish Siddiqui, 38 tahun, wartawan Reuters, tewas dalam sebuah baku tembak pada Jumat, 16 Juli 2021 saat melakukan peliputan perang di Afganistan. Siddiqui berasal dari New Delhi, India. Kematiannya meninggalkan satu istri bernama Rike dan dua anak.   

    Dalam dunia jurnalistik, Siddiqui mempelajari fotografi secara otodidak bersamaan dengan tugasnya mendokumentasikan perang, kerusuhan dan penderitaan manusia. Dia juga bagian dari tim yang mendapat penghargaan Pulitzer Prize untuk Feature Photography pada 2018 atas dokumentasi krisis pengungsi Myanmar.     

    Seorang seniman memberikan sentuhan akhir pada lukisan bergambarkan fotografer Reuters, Danish Siddiqui, setelah dia terbunuh saat meliput bentrokan antara pasukan keamanan Afghanistan dan pejuang Taliban di dekat perbatasan dengan Pakistan, di luar sebuah sekolah seni di Mumbai, India, 16 Juli 2021. Siddiqui sedang meliput bentrokan di wilayah Kandahar, saat AS menarik pasukannya dari Afghanistan menjelang tenggat waktu 11 September yang ditetapkan oleh Presiden Joe Biden. REUTERS/Francis Mascarenhas

    Teman-teman dan rekan kerja menggambarkan Siddiqui adalah sosok yang sangat peduli dengan apa yang dia liput, dia melakukan penelitian dengan cermat sebelum memulai tugas dan selalu fokus pada orang-orang yang terjebak dalam berita.

    “Bahkan dalam pemberitaan breaking news, dia akan memikirkan sisi humanisnya dan Anda bisa melihatnya pada foto-fotonya, termasuk yang memenangkan penghargaan Pulitzer Prize dan berita-berita yang ditulis bersama tim dalam beberapa tahun terakhir,” kata Devjyot Ghoshal, koresponden Reuters di New Delhi, India.         

    Siddiqui menjadi fotografer Reuters sejak 2010. Hasil karyanya telah menyoroti peperangan di Afganistan dan Irak, krisis di Rohingya, unjuk rasa pro-demokrasi di Hong Kong dan kerusuhan di India. Dalam beberapa bulan terakhir, dia membagikan foto-foto yang diambilnya saat India di kecamuk pandemi Covid-19, yang sekarang sudah menyebar ke seluruh dunia.

    “Sekitar 90 persen foto yang saya ambil, itu berasal dari pengalaman di lapangan. Yang sangat saya nikmati adalah wajah manusia yang bercerita,” kata Siddiqui.

    Seorang pria pengungsi Rohingya menarik seorang anak ketika mereka berjalan ke pantai setelah melintasi perbatasan Bangladesh-Myanmar dengan perahu melalui Teluk Benggala di Shah Porir Dwip, Bangladesh, 10 September 2017. REUTERS/Danish Siddiqui

    Siddiqui yang punya nama lengkap Ahmad Danish Siddiqui, lahir pada 19 Mei 1983. Dia menjadi wartawan setelah menyelesaikan kuliah S2 jurusan komunikasi dari Universitas Jamia Milia Islamia di India.

    Sebelum bergabung dengan Reuters, Siddiqui bekerja sebagai koresponden di surat kabar Hindustan Times dan stasiun televisi TV Today. Pada tahun lalu, Siddiqui meliput kerusuhan di wilayah pinggir Delhi ketika dia dan rekannya melihat seorang laki-laki muslim dipukuli saat dia berada di lingkungan masyarakat pemeluk agama lain.

    Baca juga: Cina Blokir 200 Lebih Berita Reuters Terkait Protes di Hong Kong

    Sumber: Reuters


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.