Oposisi: Pemilu Haiti Bakal Tertunda Lama Akibat Pembunuhan Presiden Moise

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas polisi Haiti berjaga-jaga  di luar kediaman mendiang Presiden Jovenel Moise saat agen FBI melakukan penyelidikan di Port-au-Prince, Haiti, 15 Juli 2021. REUTERS/Ricardo Arduengo

    Petugas polisi Haiti berjaga-jaga di luar kediaman mendiang Presiden Jovenel Moise saat agen FBI melakukan penyelidikan di Port-au-Prince, Haiti, 15 Juli 2021. REUTERS/Ricardo Arduengo

    TEMPO.CO, Jakarta - Senator dan oposisi pemerintah Haiti, Patrice Dumont, ragu Pemilu Haiti bakal terlaksana dalam waktu dekat pasca pembunuhan Presiden Jovenel Moise. Menurutnya, paling cepat pemilu baru akan digelar setahun kemudian karena banyaknya hal yang harus dibereskan sepeninggalan Moise.

    Beberapa hal yang harus dibereskan, kata Dumont, meliputi daftar pemilih tetap yang telah dimanipulasi, perbaikan kinerja otoritas pemilu, serta masih berperannya gangster dalam pelaksanaan pemilu di Haiti.

    "Kandidat tidak akan bisa berkampanye dalam situasi seperti sekarang. Kekuatan kelompok kriminal perlu dijinakkan dulu dengan mengubah Kepolisian Haiti di bawah kepemimpinan baru," ujar Dumont, dikutip dari kantor berita Reuters, Jumat, 16 Juli 2021.

    Haiti sudah lama tidak menggelar pemilu. Terakhir kali mereka menggelar pemilu adalah 2016 dan sejak saat itu mereka tidak mampu menggelar pemilu apapun. Alhasil, banyak posisi di pemerintahan yang masih kosong hingga sekarang. Sebagai contoh, Senat hanya diisi oleh 10 senator dari yang seharusnya 30.

    Mendiang Presiden Jovenel Moise menjanjikan pemilu digelar pada 26 September nanti, baik pemilu legislatif maupun presiden. Selain itu, Moise juga berencana melakukan referendum konstitusi di periode yang sama. Rencana itu bubar saat Moise tewas ditembak beberapa hari lalu dan sejak saat itu stabilitas politik Haiti terancam.

    Presiden Haiti Jovenel Moise berbicara selama upacara penobatan komite penasihat independen untuk penyusunan konstitusi baru di Istana Nasional di Port-au-Prince, Haiti 30 Oktober 2020. [REUTERS/Andres Martinez Casares/File Photo]

    Dumont berkata, harapan terbesar untuk menjaga stabilitas politik Haiti sembari mempersiapkan pemilu baru adalah membentuk dewan persatuan transnasional. Dengan mempersatukan lima pemimpin, termasuk PLT Presiden Claude Joseph, Dumont berkeyakinan kompromi bisa dicapai untuk mengendalikan situasi.

    "Kita harus mencapai kompromi politik yang mengacu pada kepentingan publik. Hal tersebut mungkin dilakukan dan satu-satunya cara untuk keluar dari malapetaka ini," ujar Dumont menegaskan.

    Ditanyai soal langkah Claude Joseph meminta Amerika mengirimkan pasukan militer untuk berjaga di Haiti, Dumont mengatakan hal itu adalah langkah politik. Joseph, kata ia, mencoba mendapat dukungan Amerika dengan mencoba menunjukkan bahwa ia berada di pihak Negeri Paman Sam.

    Kabar terakhir, Presiden Amerika Joe Biden menolak permintaan itu. "Saya rasa warga Haiti juga tidak akan mau menerima intervensi militer semacam itu," ujar Dumont menegaskan. Joseph tidak memberikan keterangan per berita ini ditulis.

    Baca juga: Joe Biden Tolak Permintaan Kirim Pasukan AS ke Haiti

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.