Hotel di Jepang Ini Pisahkan Lift untuk Pribumi dan Orang Asing, Takut Corona

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo Olimpiade Tokyo 2020 yang ditunda hingga 2021 karena wabah penyakit coronavirus (COVID-19), terlihat di dekat papan rambu lalu lintas di gedung Kantor Pemerintah Metropolitan Tokyo di Tokyo, Jepang 22 Januari 2021. Olimpiade Tokyo seharusnya digelar pada 2020 namun pandemi Covid-19 membuat Komite Olimpiade Internasional mengundurkan pesta olahraga dunia itu selama satu tahun. REUTERS/Issei Kato

    Logo Olimpiade Tokyo 2020 yang ditunda hingga 2021 karena wabah penyakit coronavirus (COVID-19), terlihat di dekat papan rambu lalu lintas di gedung Kantor Pemerintah Metropolitan Tokyo di Tokyo, Jepang 22 Januari 2021. Olimpiade Tokyo seharusnya digelar pada 2020 namun pandemi Covid-19 membuat Komite Olimpiade Internasional mengundurkan pesta olahraga dunia itu selama satu tahun. REUTERS/Issei Kato

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah hotel di Tokyo, Jepang telah meminta maaf karena membedakan lift untuk pengunjung warga negara Jepang dan orang asing. Hotel ini akhirnya menghapus tulisan "Japanese only" dan "Foreigners Only" di pintu lift setelah mendapat kecaman keras di media sosial.

    Pembedaan lift dilakukan sebagai tindakan pencegahan anti-COVID-19. Namun hal itu memicu kemarahan di media sosial menjelang Olimpiade Musim Panas 2020.

    Tokyo memasuki keadaan darurat di tengah kekhawatiran masuknya puluhan ribu atlet dan ofisial asing selama Olimpiade 23 Juli-8 Agustus akan menyebarkan virus corona. Saat ini kasus corona di Tokyo naik drastis.

    Akasaka Excel Hotel Tokyu di pusat kota Tokyo memasang tulilsan itu di hari Jumat pekan lalu sebagai tanggapan atas panduan dari penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020. Seorang pejabat menyatakan kepada Reuters, tujuannya memastikan pergerakan tamu yang terkait dengan Olimpiade dipisahkan dari tamu hotel setempat.

    Pejabat itu yang menolak disebutkan namanya mengatakan tidak ada niat untuk mendiskriminasi orang asing. "Kami mencoba membuatnya mudah dimengerti tetapi akhirnya menyebabkan kesalahpahaman," kata pejabat itu.

    Tulisan itu telah dihapus pada Minggu pagi dan pihak hotel sedang mendiskusikan tanda yang tepat untuk digunakan.

    Tulisan yang membedakan warga Jepang dan asing itu memicu kritik keras di media sosial. Salah satu pengguna Twitter mengatakan "Apartheid telah dihidupkan kembali di Jepang".

    Yang lain menyamakan tanda-tanda itu dengan tindakan "Jim Crow" AS, yang dirancang untuk mencegah orang kulit hitam memilih di Deep South AS. "Virus itu tidak ada hubungannya dengan kebangsaan," cuit pengguna Twitter Anna.

    Baca: Daftar Negara-Negara yang Bantu Indonesia Tangani Covid-19

    REUTERS 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.