Masjid Biru St Petersburg, Saksi Bisu Hubungan Manis Indonesia-Rusia

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Masjid Saint-Petersburg dibangun pada 1910 hingga 1920. Pada era Soviet tahun 1940 silam, seluruh tempat ibadah, termasuk masjid berwarna biru ini dialihfungsikan sebagai gudang. Pada 1956, masjid ini kembali difungsikan sebagai tempat ibada setelah presiden pertama Indonesia, Soekarno berkunjung ke Rusia dan meminta untuk mengembalikan fungsi rumah ibadah tersebut. Shutterstock

    Masjid Saint-Petersburg dibangun pada 1910 hingga 1920. Pada era Soviet tahun 1940 silam, seluruh tempat ibadah, termasuk masjid berwarna biru ini dialihfungsikan sebagai gudang. Pada 1956, masjid ini kembali difungsikan sebagai tempat ibada setelah presiden pertama Indonesia, Soekarno berkunjung ke Rusia dan meminta untuk mengembalikan fungsi rumah ibadah tersebut. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia dan Rusia dikenal memiliki hubungan dekat sejak masa pemerintahan Presiden Soekarno. Salah satu simbol keakraban dua negara ini adalah berdirinya Masjid Biru yang berada di kota Saint Petersburg.

    Kedatangan Bung Karno ke Uni Soviet pada 1956 untuk memenuhi undangan Ketua Dewan Menteri Nikita Khrushche melatarbelakangi renovasi salah satu masjid terbesar di Eropa ini.

    Cerita berawal saat Bung Karno sedang menelusuri sungai Neva di Kota Leningrad (nama kota Saint Peterburg kala itu). Perhatian Bung Karno terarah pada dua menara dengan kubah berwarna biru dan simbol bulan sabit. Ia kaget lantaran bangunan tersebut secara fisik merupakan sebuah masjid namun difungsikan sebagai gudang tidak terurus.

    Bung Karno lalu ke Moskow dan bertemu dengan Khrushchev. Kepada pemimpin Soviet itu Bung Karno menyatakan tidak senang saat melihat masjid yang tidak terurus. Akhirnya presiden RI pertama ini meminta agar pemerintah Soviet menyerahkan kembali masjid itu ke umat Islam di sana.

    “Soekarno meminta masjid ini dikembalikan sesuai fungsinya. Sepuluh hari setelah kunjungan Presiden Soekarno, bangunan ini kembali menjadi masjid,” kata Mufti Masjid Biru, Ravil Pancheev dikutip dari RBTH, Jumat, 9 Juli 2021.

    Cerita ini didapatkan pula oleh Duta Besar Indonesia untuk Rusia Mohamad Wahid Supriyadi ketika berkunjung ke St. Petersburg 20 Februari tahun lalu. Pancheev bahkan menunjukkannya beberapa gambar saat Presiden Soekarno berkunjung ke kota tersebut dan bertemu dengan beberapa tokoh Muslim di Masjid Biru.

    Kini Masjid Biru sudah berfungsi kembali sebagai tempat umat Islam beribadah. Berdasarkan penulusaran sejarah, masjid ini awalnya dibangun pada 1910 oleh para pekerja muslim yang berasal dari kawasan selatan Soviet seperti Dagestan, Kazakhstan, Tajikistan, dan Turkmenistan.

    Masjid ini merupakan karya dari arsitek Nikolay Vasilyev. Ia memadukan ornament ketimuran dan mosaik biru toska pada kubah, gerbang, menara, serta mihrab imam sehingga dikenal dengan nama Masjid Biru. Masjid ini memiliki kubah biru setinggi 39 meter dan menara kembar setinggi 49 meter.

    WILDA HASANAH (MAGANG) 

    Baca Juga:

    Taliban Janji ke Rusia Afganistan Tidak Akan Digunakan untuk Serang Negara Lain

    Sumber: KEMLU.GO.ID | RBTH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.