Warga Tak Disiplin dan Vaksinasi Lamban, Iran Terancam Gelombang Kelima COVID-19

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden terpilih Iran Ebrahim Raisi berbicara kepada media setelah pertemuan mereka di Teheran, Iran 19 Juni 2021. Presiden Iran Hassan Rouhani yang mundur pada Sabtu (19 Juni) memberi selamat kepada hakim garis keras Ebrahim Raisi, yang menang telak dalam pemilihan presiden Iran. [Situs web resmi Kepresidenan Iran/Handout via REUTERS ]

    Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden terpilih Iran Ebrahim Raisi berbicara kepada media setelah pertemuan mereka di Teheran, Iran 19 Juni 2021. Presiden Iran Hassan Rouhani yang mundur pada Sabtu (19 Juni) memberi selamat kepada hakim garis keras Ebrahim Raisi, yang menang telak dalam pemilihan presiden Iran. [Situs web resmi Kepresidenan Iran/Handout via REUTERS ]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Iran bersiap-siap diterpa gelombang kelima (lokal) pandemi COVID-19. Hal itu seiring dengan makin menyebarnya varian Delta COVID-19 di bagian selatan dan tenggara negeri tersebut. Dikutip dari Al Jazeera, inkumben Presiden Hassan Rouhani mengatakan makin menyebarnya COVID-19 tak lepas dari mulai menurunnya kedisiplinan warga terhadap protokol kesehatan dan pembatasan sosial.

    " Jika kita tidak hati-hati, maka ada kemungkinan kita bakal menghadapi gelombang kelima pandemi COVID-19," ujar Hassan Rouhani, Sabtu, 4 Juli 2021.

    Menurut data WorldOMeter, Iran tercatat memiliki 3,2 juta kasus dan 84 ribu kematian akibat COVID-19. Sejak Juni 2021, jumlah kasus di sana perlahan mulai naik lagi dari yang awalnya sudah turun dari 25 ribu kasus per hari di bulan April menjadi 6 ribu per hari di awal bulan Juni.

    Apabila mengacu pada data Kementerian Kesehatan Iran, sebanyak 92 kabupaten di sana sudah masuk dalam zona merah alias wabah parah. Jumlah tersebut mewakili kurang lebih separuh dari wilayah Iran yang terbagi menjadi 32 provinsi.

    Untuk menekan penyebaran tersebut, larangan perjalanan ke dalam dan luar kota diberlakukan di 266 daerah yang masuk zona merah dan jingga. Selain itu, jam malam diberlakukan dari pukul 22.00 hingga 03.00.

    ilustrasi - Dokter memegang botol ampul kaca mengandung sel molekul virus corona Covid-19 asal Inggris yang telah mengalami mutasi RNA menjadi varian baru. (ANTARA/Shutterstock/pri.)

    Di ibu kota Iran, Tehran, 70 persen dari total tenaga kerja di sana diminta untuk bekerja dari rumah. Kantor yang bergerak di sektor esensial pun diminta untuk mengurangi kapasitasnya hingga 50 persen.

    "Pemilu Presiden yang diselenggarakan Juni lalu memiliki dampak terhadap naiknya jumlah kasus," ujar Hassan Rouhani yang akan digantikan Ebrahim Raisi pada Agustus nanti.

    Situasi di Iran diperburuk kampanye vaksinasi COVID-19 yang masih lamban. Total, baru ada 4,5 juta warga Iran yang sudah menerima satu dosis vaksin. Angka itu mewakili kurang lebih 5 persen total populasi Iran.

    Untuk kampanye vaksinasinya, Iran megandalkan donasi dari Rusia, Cina, India, Kuba, dan COVAX. Sanksi ekonomi dari Amerika menyebabkan Iran tidak bisa membeli vaksin dengan bebas, hanya mampu mengandalkan donasi serta produk lokal.

    Total, sudah ada vaksin lokal yang sudah mendapat persetujuan penggunaan di Iran. Salah satunya berasal dari Setad dengan nama Barekat. Organisasi pimpin Ali Hosseini Khamenei itu mengklaim 2,7 juta dosis sudah diproduksi dan 400 ribu di antaranya sudah dikirimkan ke Kementerian kesehatan.

    Target Setad, 50 juta dosis siap didistribusikan di akhir September. Sebagai perbandingan, Iran menargetkan seluruh rakyatnya tervaksin penuh pada Maret 2022.

    Baca juga: Vaksin Covid-19 Buatan Lokal Kedua Diizinkan Digunakan di Iran

    ISTMAN MP | AL JAZEERA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.