Xi Jinping Dorong Reunifikasi di Utah Partai Komunis Cina, Ini Jawaban Taiwan

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Cina Xi Jinping berbicara pada upacara penghargaan medali yang menandai peringatan 100 tahun berdirinya Partai Komunis Cina, di Aula Besar Rakyat di Beijing, Cina, dalam gambar diam yang diambil dari video yang dirilis 29 Juni 2021. [CCTV via Reuters TV]

    Presiden Cina Xi Jinping berbicara pada upacara penghargaan medali yang menandai peringatan 100 tahun berdirinya Partai Komunis Cina, di Aula Besar Rakyat di Beijing, Cina, dalam gambar diam yang diambil dari video yang dirilis 29 Juni 2021. [CCTV via Reuters TV]

    TEMPO.CO, Jakarta - Ancaman terhadap negara-negara asing bukan satu-satunya pesan Presiden Xi Jinping dalam pidato 1 Abad Partai Komunis Cina. Selain ancaman tersebut, Xi Jinping juga menyuarakan pentingnya reunifikasi Cina yang melibatkan Hong Kong, Taiwan, dan Macau.

    Dari ketiga negara itu, situasi Taiwan yang paling rumit. Taiwan masih bertahan dengan sikapnya terpisah, merdeka dari Cina. Cina berupaya memprovokasi dengan beberapa kali menggelar latihan militer bersama di Selat Taiwan atau mengirimkan pasukan jet tempurnya ke wilayah penerbangan negara itu. Taiwan, dalam hal ini, mendapat bantuan Amerika untuk bertahan.

    "Menyelesaikan masalah Taiwan dan mewujudkan reunifikasi utuh dari tanah air kita merupakan tanggung jawab historis dari Partai Komunis Cina. Hal itu juga merupakan aspirasi utama dari warga CIna," ujar Xi Jinping dalam pidatonya di Alun-alun Tiananmen, Kamis, 1 Juli 2021.

    Agar reunifikasi itu bisa terwujud, Xi Jinping meminta para putra-putri Cina, dan juga kompatriot di Taiwan untuk mendukung misi partai komunis. Menurutnya, tanpa adanya solidaritas dari warga Cina dan kompatriot di Taiwan, gerakan 'Taiwan Merdeka' akan sulit dilawan.

    "Kami menginginkan reunifikasi yang damai...jangan meremehkan determinasi, keteguhan, dan ketangguhan warga Cina dalam mempertahankan kedaulatan dan integritas teritorialnya," ujar Xi Jinping.

    Pesawat tempur Indigenous Defense Fighters (IDF) buatan dalam negeri Taiwan mengambil bagian dalam latihan militer Han Kuang live-fire anti-pendaratan, yang mensimulasikan invasi musuh, di Taichung, Taiwan, 16 Juli 2020. Ketika Joe Biden menjadi presiden AS terpilih, Taiwan masih mennunggu kebijakan pemerintahan baru. REUTERS/Ann Wang

    Taiwan menanggapi sinis pernyataan Xi Jinping. Menurut mereka, sikap diktator Cina yang mengancam kebebasan warga malah akan menjadi ancaman untuk Taiwan. Selain itu, mereka juga mempermasalahkan aksi-aksi berbahaya Militer Cina yang bisa mengganggu stabilitas regional.

    Sebagai catatan, warga Taiwan sudah lama menolak prinsip "Satu Cina" yang menjadikan negaranya sebagai bagian negeri tirai bambu itu. Menurut mereka, jika Cina memang ingin bernegosiasi dengan Taiwan soal statusnya, maka hal itu harus dilakukan dalam posisi yang setara.

    "Komitmen negara kami tegas, mempertahankan kedaulatan, demokrasi, dan kedaulatan Taiwan. Komitmen kami soal menjaga stabilitas di terusan Taiwan tidak pernah berubah," ujar Dewan Urusan Daratan Cina, dikutip dari Reuters.

    Selama ini, Cina selalu menganggap Taiwan sebagai bagiannya. Selain itu, mereka juga menganggap Presiden Taiwan Tsai Ing-wen sebagai seorang separatis yang bersikeras memisahkan diri dari Cina. Tsai Ing-wen selama ini berkata Taiwan sudah merdeka dari Cina sejak lama.

    Baca juga: Reunifikasi dan Gebuk Negara Asing jadi Tema Pidato 1 Abad Partai Komunis Cina

    ISTMAN MP | REUTERS



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.