8.500 Anak-anak Dimanfaatkan Jadi Tentara di Wilayah Konflik

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak-anak di belakang sebuah truk ketika mereka melarikan diri dari kota Ras al Ain, Suriah 9 Oktober 2019. Tentara Turki juga mulai menggempur pangkalan dan depot amunisi dari milisi YPG Kurdi. Serangan artileri, yang juga menargetkan posisi senapan dan sniper YPG, ditujukan ke lokasi yang jauh dari daerah perumahan. REUTERS / Rodi Said

    Anak-anak di belakang sebuah truk ketika mereka melarikan diri dari kota Ras al Ain, Suriah 9 Oktober 2019. Tentara Turki juga mulai menggempur pangkalan dan depot amunisi dari milisi YPG Kurdi. Serangan artileri, yang juga menargetkan posisi senapan dan sniper YPG, ditujukan ke lokasi yang jauh dari daerah perumahan. REUTERS / Rodi Said

    TEMPO.CO, Jakarta - Data PBB yang dipublikasi pada Senin, 21 Juni 2021, mengungkap ada lebih dari 8.500 anak-anak yang dimanfaatkan untuk menjadi tentara pada tahun lalu. Mereka dilibatkan dalam sejumlah konflik di berbagai belahan negara.

    Dalam laporan PBB disebutkan, dari 8.500 anak-anak yang dijadikan tentara itu, hampir 2.700 orang terbunuh. Disebutkan pula, tindak kekerasan telah terjadi pada 19.379 anak-anak di 21 konflik yang sedang terjadi di dunia saat ini.

    Informasi itu tuangkan dalam laporan PBB kepada Dewan Keamanan bidang anak-anak dan konflik bersenjata. Laporan tersebut diantaranya meliputi informasi pembunuhan, melukai, kekerasan seksual pada anak-anak, penculikan atau perekrutan, tidak adanya akses bantuan dan sekolah serta rumah sakit yang menjadi sasaran konflik.

    Seorang pria Palestina menggendong anak yang terluka terlibat bentrokan dengan tentara Israel di perbatasan Israel-Gaza, selatan Gaza, 4 April 2018. AP

    Dalam laporan disebutkan, pada 2020 lalu kekerasan terjadi di Somalia, Republik Demokratik Kongo, Afganistan, Suriah dan Yaman. Terferivikasi ada 8.521 anak-anak, yang di manfaatkan menjadi tentara pada tahun itu. Dari jumlah tersebut, 2.674 anak-anak terbunuh dan 5.748 anak-anak mengalami luka-luka dalam sejumlah konflik yang terjadi.

    Laporan PBB mencantumkan pula negara-negara yang masuk daftar hitam lembaga itu agar pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, malu dan diharapkan bisa mendorong mereka menerapkan kebijakan yang melindungi anak-anak. Hanya saja, daftar hitam ini sudah lama menjadi kontroversi, di mana sejumlah diplomat mengatakan Arab Saudi dan Israel sama-sama memberikan tekanan agar tidak masuk dalam daftar hitam PBB tersebut.

    Israel sama sekali tak pernah masuk dalam daftar PBB itu, sedangkan Arab Saudi yang memimpin koalisi serangan militer, sudah dihapus dari daftar pada 2020 lalu setelah sebelumnya masuk daftar itu dan dipermalukan karena diduga membunuh serta melukai anak-anak di Yaman.

       

    Baca juga: Anak-Anak Migran di AS Diduga Diberikan Makanan Basi

    Sumber: Reuters


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.