TEMPO.CO, Jakarta - Buku terbaru soal masa-masa pemerintahan mantan Presiden Amerika Donald Trump dari jurnalis Washington Post, Yasmeen Abutaleb dan Damian Paletta, menyampaikan banyak hal soal penanganan COVID-19 di masanya. Salah satunya, soal bagaimana Donald Trump sempat meminta mereka yang tertular COVID-19 ditempatkan di Guantanamo Bay.
Guantanamo Bay adalah kamp detensi yang dibangun Amerika untuk menempatkan para terpidana kasus serius. Beberapa di antaranya adalah terpidana terorisme atau kejahatan perang. Meski penggunaannya akan dikurangi di masa Presiden Joe Biden, kamp tersebut aktif digunakan di masa Trump.
"Bukannya kita punya pulau yang bisa digunakan (untuk menempatkan mereka yang tertular)? Bagaimana dengan Guantanamo," ujar Donald Trump pada buku berjudul Nightmare Scenario: Inside the Trump Administration’s Response to the Pandemic That Changed History, dikutip dari Al Jazeera, Selasa, 22 Juni 2021.
Donald Trump melanjutkan pernyataannya bahwa ia tidak ingin virus COVID-19 sampai masuk ke Amerika. Ia berkata, "Kita adalah pengimpor barang. Kita tidak akan mengimpor virus".
Fasilitas kamar, yang hanya bisa ditempati satu tahanan di penjara Guantanamo. Getty Images/Joe Raedle
Para penasihat Pemerintah Amerika disampaikan terkejut ketika mendengarkan ide Trump. Mereka memilih untuk tidak meresponnya. Adapun para penasihat baru menolak secara tegas ketika Donald Trump mengajukan ide itu untuk kedua kalinya dalam rapat berbeda.
Percakapan soal Guantanmo Bay itu terjadi sebelum kasus COVID-19 meledak di Amerika, Maret 2020. Saat itu, Donald Trump sudah menjadi sasaran kritik karena kurang gesit merespon pandemi yang diduga berasal dari Wuhan, Cina itu. Adapun dampak kurang cekatannya Trump masih terasa hingga sekarang.
Per berita ini ditulis, Amerika masih berada di urutan puncak negara paling terdampak COVID-19. Ada 34 juta kasus dan 617 ribu kematian di negeri Paman Sam itu. Kurang lebih 400 ribu korban meninggal berasal dari masa pemerintahan Donald Trump.
Buku Abutaleb dan Paletta, yang mengacu pada wawancara dengan penasihat-penasihat Trump, mengungkap banyak hal lain. Selain soal kamp Guantanamo Bay, buku mereka juga menceritakan soal Trump memprotes kebijakan testing COVID-19 di Amerika. Menurutnya, kebijakan itu akan membuatnya kalah di Pilpres Amerika.
Seorang tentara Angkatan Udara AS mendapat vaksin COVID-19 di Pangkalan Udara Osan di Pyeongtaek, Korea Selatan, 29 Desember 2020. Pasukan AS-Korea (USFK), yang mencakup sekitar 28.500 personel militer Amerika serta ribuan personel lain dan anggota keluarganya, memberikan dosis pertama kepada petugas kesehatan garis depan dan penanggap pertama di pasukan, kata seorang pejabat USFK. Staff Sgt. Betty R. Chevalier/U.S. Air Force/DVIDS/Handout via REUTERS
"Saya akan kalah pemilu hanya gara-gara testing. Orang Idiot macam apa yang meminta Pemerintah Federal menggelar testing," ujar Donald Trump.
Contoh cerita lainnya adalah "perseteruan" antara Donald Trump dengan Penasihat Medis Amerika Dr. Anthony Fauci. Bukan rahasia umum lagi bahwa keduanya kerap berbeda pendapat mulai dari soal masker, situasi pandemi, vaksinasi, hingga obat-obatan COVID-19.
Menurut buku Abutaleb dan Paletta, Trump nyaris memecat Fauci, namun mengurungkan niatnya. Sebagai gantinya, ia mengesampingkan rekomendasi-rekomendasi Fauci dan lebih mendengarkan masukan-masukan para ekonom atau pakar non-epidemi.
"Pemerintahan Trump seperti lingkungan kerja yang toxic di mana ke manapun kamu akan bergerak, seseorang siap untuk mencabut nyawamu atau memecatmu," ujar kedua penulis soal masa-masa penanganan pandemi COVID-19 oleh Donald Trump.
Baca juga: Hari ini Donald Trump Berusia 75 Tahun, Pernah Jadi Host Bayaran Tertinggi
ISTMAN MP | AL JAZEERA