PBB: 8.521 Anak-Anak di Seluruh Dunia Dijadikan Tentara Selama 2020

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang instruktur mengajarkan menembak kepada seorang anak menggunakan senjata otomatis Kalashnikov dalam acara International Army Games 2018 di Alabino, Rusia, 28 Juli 2018. REUTERS/Sergei Karpukhin

    Seorang instruktur mengajarkan menembak kepada seorang anak menggunakan senjata otomatis Kalashnikov dalam acara International Army Games 2018 di Alabino, Rusia, 28 Juli 2018. REUTERS/Sergei Karpukhin

    TEMPO.CO, - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan lebih dari 8.500 anak-anak dijadikan tentara dalam berbagai konflik di seluruh dunia selama 2020. Hampir 2.700 lainnya tewas, kata dia, dalam laporan tahunannya kepada Dewan Keamanan PBB.

    Laporan tersebut memverifikasi bahwa pelanggaran telah dilakukan terhadap 19.379 anak dalam 21 konflik. Seperti dikutip dari Channel News Asia, Selasa, 22 Juni 2021, pelanggaran terbanyak pada 2020 dilakukan di Somalia, Republik Demokratik Kongo, Afganistan, Suriah, dan Yaman.

    Hal ini juga memverifikasi bahwa 8.521 anak-anak digunakan sebagai tentara tahun lalu, sementara 2.674 anak lainnya tewas dan 5.748 terluka dalam berbagai konflik.

    Laporan itu memasukkan pula daftar hitam yang dimaksudkan untuk mempermalukan pihak-pihak yang berkonflik dengan harapan mendorong mereka untuk menerapkan langkah-langkah perlindungan anak.

    Daftar tersebut telah lama menjadi kontroversi saat para diplomat menuduh Arab Saudi dan Israel memberi tekanan dalam beberapa tahun terakhir agar tidak masuk ke dalamnya. Israel tidak pernah terdaftar, sementara koalisi militer yang dipimpin Saudi telah dihapus dari daftar pada 2020 beberapa tahun setelah pertama kali disebutkan dan dipermalukan karena membunuh dan melukai anak-anak di Yaman.

    Dalam upaya meredam kontroversi seputar laporan tersebut, daftar hitam yang dirilis pada 2017 oleh Guterres dibagi menjadi dua kategori. Satu daftar untuk pihak yang telah menerapkan langkah-langkah perlindungan anak-anak dan lainnya buat pihak-pihak yang belum.

    Ada beberapa perubahan signifikan pada daftar yang dirilis pada Senin. Satu-satunya negara yang disebutkan dalam daftar karena tidak menerapkan tindakan melindungi anak-anak adalah militer Myanmar. Hal ini mengacu untuk pembunuhan, melukai dan kekerasan seksual terhadap anak-anak.

    Daftar hitam yang dikeluarkan PBB itu memasukkan pula pasukan pemerintah Suriah terkait perekrutan, pembunuhan, melukai dan kekerasan seksual terhadap anak-anak dan serangan terhadap sekolah dan rumah sakit

    Baca juga: PBB: Tenggelamnya Kapal Pengangkut Bahan Kimia di Sri Lanka Merusak Bumi

    Sumber: CHANNEL NEWS ASIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.