Varian Delta COVID-19 Menyebar di Rusia, Kremlin Salahkan Warga dan Nihilisme

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Botol vaksin virus corona Sputnik V Rusia di Beograd, Serbia, 6 Januari 2021. [REUTERS / Fedja Grulovic]

    Botol vaksin virus corona Sputnik V Rusia di Beograd, Serbia, 6 Januari 2021. [REUTERS / Fedja Grulovic]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah pusat Rusia, Kremlin, menyalahkan warga atas naiknya jumlah kasus COVID-19 yang kebanyakan adalah varian Delta. Menurut Kremlin, naiknya angka kasus COVID-19 di rusia karena warga enggan divaksin dan paham nihilisme.

    Per berita ini ditulis, Rusia berada di peringkat keenam negara paling terdampak COVID-19. Mereka tercatat memiliki 5,2 juta kasus dan 128 ribu korban jiwa akibat COVID-19. Dalam 24 jam terakhir, jumlah kasus di sana bertambah 17 ribu atau yang tertinggi sejak bulan Maret 2021.

    "Presiden Vladimir Putin terus memantau situasi ini. Naiknya angka kasus karena sifat (mutasi) virus yang berbahaya, nihilisme, dan rendahnya angka vaksinasi COVID-19," ujar juru bicara Pemerintah Rusia, Dmitry Peskov, dikutip dari kantor berita Reuters, Jumat, 18 Juni 2021.

    Peskov mengaku tidak tahu betul kenapa warga sampai enggan divaksin. Ditanyai apakah hal itu disebabkan rendahnya kepercayaan warga terhadap administrasi Putin atau efikasi vaksin lokal (Sputnik V), Peskov membantah anggapan tersebut.

    ADVERTISEMENT

    Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov.[REUTERS]

    Deputi Perdana Menteri Rusia, Tatiana Golikova, melanjutkan bahwa ada 19,7 juta warga Rusia yang sudah menerima paling tidak satu dosis vaksin COVID-19. Angka tersebut, kata ia, baru seper tujuh dari populasi Rusia dan jauh lebih rendah dibanding capaian negara-negara barat.

    Untuk menggenjot angka vaksinasi COVID-19 yang masih rendah, Pemerintah Rusia mencari berbagai cara untuk menarik minat warga. Hal itu mulai dari hadiah hingga hukuman.

    Di Moskow, Wali Kota Sergei Sobyanin menyiapkan berbagai langkah. Salah satunya, ia mengumumkan bakal rutin menggelar draw prize berhadiah mobil untuk warga Moskow hingga Juli nanti. Ia juga menyiapkan hukuman di mana warga tak akan dilayani di rumah sakit jika belum menerima vaksin COVID-19 sekalipun.

    Seorang pekerja medis menyuntikkan vaksin Covid-19 bernama Sputnik V pada seorang sukarelawan dalam uji klinis tahap tiga di Moskow, Rusia, 15 September 2020. Rusia telah mengumpulkan sebanyak 55.000 orang relawan yang bersedia ikut serta dalam pengujian klinis vaksin Covid-19. Xinhua/Alexander Zemlianichenko Jr

    "Siapapun yang berusia di atas 14 tahun dan mengikuti kampanye vaksinasi COVID-19 dari 14 Juni hingga 11 Juli otomatis mendapat kesempatan draw prize berhadiah mobil. Satui mobil senilai 1 juta Rubel Rusia (Rp197 juta)," ujar Sobyanin.

    Sobyanin mengatakan, dirinya rela memberikan hadiah karena situasi di Moskow kian buruk dan vaksinasi harus digencarkan. Dari 13 juta warga Moskow, kata ia, nyaris 90 persennya sudah tertular virus COVID-19 varian Delta. Ia pun mendorong adanya suntikan dosis ketiga untuk memastikan warga yang sudah divaksin terlindungi.

    "Ini adalah momen vital untuk segera memberikan suntikan dosis ketiga. Saya baru saja menerimanya setelah divaksin penuh tahun lalu. Dosis tambahan ini seperti dosis pertama vaksin COVID-19 Sputnik V," ujar Sobyanin menjelaskan situasi vaksinasi di Rusia.

    Baca juga: Ikut Vaksinasi COVID-19 di Rusia Bakal Dapat Hadiah Mobil

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selain Makan di Warteg, Ini Sejumlah Kegiatan Asyik yang Bisa Dilakukan 20 Menit

    Ternyata ada banyak kegiatan positif selain makan di warteg yang bisa dilakukan dalam waktu 20 menit. Simak sejumlah kegiatan berikut...