Palestina Batalkan Pemesanan Vaksin COVID-19 Nyaris Kedaluwarsa dari Israel

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria Palestina menerima suntikan dosis kedua vaksin Covid-19 Sinopharm China di sebuah pusat kesehatan dalam kampanye vaksinasi di Kota Betlehem, Tepi Barat, pada 29 April 2021. Kredit: Xinhua/Luay Sababa

    Seorang pria Palestina menerima suntikan dosis kedua vaksin Covid-19 Sinopharm China di sebuah pusat kesehatan dalam kampanye vaksinasi di Kota Betlehem, Tepi Barat, pada 29 April 2021. Kredit: Xinhua/Luay Sababa

    TEMPO.CO, Jakarta - Otoritas Palestina (PA) membatalkan pemesanan vaksin COVID-19 yang nyaris kedaluwarsa dari Israel. Dikutip dari kantor berita Reuters, Palestina mendapati vaksin yang hendak diberikan memiliki tanggal kedaluwarsa lebih awal dibanding kesepakatan.

    Menurut kesepakatan yang diteken dengan Israel, Palestina akan mendapatkan 1,4 juta dosis vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech yang kedaluwarsa di bulan Agustus. Sebagai gantinya, Palestina akan memberikan dosis yang mereka miliki dengan jumlah sama begitu supplai baru tiba di semester kedua nanti.

    "Mereka bilang tanggal kedaluwarsanya berada di bulan Juli atau Agustus di mana memberi kami cukup waktu untuk menggunakannya. Ternyata, dosis yang kami terima akan kedaluwarsa Juni ini. Tidak akan sempat untuk menggunakannya," ujar Menteri Kesehatan Palestina, Mai Alkaila, Jumat, 18 Juni 2021.

    Alkaila melanjutkan bahwa sejauh ini pihaknya sudah menerima 90 ribu dosis dari Israel. Dosis itu tidak akan digunakan sedikitpun dan langsung dikembalikan ke Israel.

    Seorang pria Palestina didampingi putranya saat menerima vaksin virus corona dalam Israel melanjutkan program vaksinasi nasionalnya, di Yerusalem Timur, 23 Desember 2020. Sejumlah negara telah memulai vaksinasi bagi warganya. REUTERS/Ammar Awad

    PM Naftali Bennett dari Israel tidak memberikan respon apapun soal pembatalan itu. Namun, ketika kesepakatan diteken, administrasinya mengatakan vaksin yang diberikan sudah disetujui bisa dipakai untuk vaksinasi di Tepi Barat dan Gaza.

    Salah seorang pejabat Israel, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan masalah vaksinasi di Tepi Barat dan Gaza sejatinya adalah urusan Palestina seluruhnya. Oleh karenanya, menurut ia, tidak bisa Palestina menuntut banyak dari Israel, termasuk masalah ketersediaan vaksin COVID-19.

    Sebagai catatan, Israel adalah salah satu negara tercepat dalam melakukan vaksinasi COVID-19. Per berita ini ditulis, 55 persen penduduknya sudah divaksin penuh. Angka itu akan bertambah seiring dengan dimulainya vaksinasi terhadap remaja berusia 12-15 tahun.

    Di Palestina, angkanya lebih kecil. Khusus Tepi Barat dan Gaza, baru 30 persen penduduk mereka yang sudah menerima setidaknya satu dosis vaksin COVID-19. Masih kecilnya angka, salah satunya, dipengaruhi keengganan warga untuk divaksin. Survei dari Pusat Kebijakan dan Riset Survei Palestina menyebut hanya 40 persen warga yang mau divaksin.

    Sejauh ini, Palestina sudah menerima vaksin dari Israel, Rusia, Cina, Uni Emirat Arab, dan COVAX. Warga Palestina berharap Israel lebih berperan membantu pengadaan vaksin COVID-19 untuk mereka.

    Baca juga: Akses Keluarga Palestina di Sheikh Jarrah Dibatasi Barikade oleh Polisi Israel

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.