WHO: Varian Delta COVID-19 dari India Akan Menjadi Varian Dominan

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang perempuan dengan gangguan pernapasan menerima bantuan oksigen gratis di Gurudwara (kuil Sikh), di tengah Tsunami COVID-19 di Ghaziabad, India, 30 April 2021. REUTERS/Adnan Abidi

    Seorang perempuan dengan gangguan pernapasan menerima bantuan oksigen gratis di Gurudwara (kuil Sikh), di tengah Tsunami COVID-19 di Ghaziabad, India, 30 April 2021. REUTERS/Adnan Abidi

    TEMPO.CO, Jakarta - Varian Delta COVID-19 dari India telah menyebar ke seluruh dunia. Hal tersebut diungkapkan Kepala Penelitian WHO, Soumya Swaminathan, berdasarkan laporan peningkatan kasus varian Delta di berbagai negara. Beberapa di antaranya adalah Inggris, Jerman, dan Rusia.

    "Varian Delta dalam proses menjadi varian yang dominan di level global karena mudah menyebar," ujar Swaminathan, dikutip dari kantor berita Reuters, Jumat, 18 Juni 2021.

    Pernyataan Swaminathan didukung oleh CureVac, perusahaan farmasi asal Jerman, yang vaksinnya gagal lolos uji klinis WHO. Menurut laporan CureVac, setidaknya ada 13 varian COVID-19 yang mereka temukan selama penelitian. Dari ke-13 varian itu, varian Delta dinilai sebagai yang paling mudah menyebar.

    Kepala Program Gawat Darurat WHO, Mike Ryan, memberikan pernyataan senada soal varian Delta. Menurutnya, tren peningkatan varian Delta sangat mengkhawatirkan. Di sisi lain, kata ia, hal itu menunjukkan realita bahwa apa yang dihadapi dunia bukan satu atau dua varian COVID-19, tapi lebih.

    "Realita yang harus kita hadapi adalah di era multi-varian, dengan kemampuan penyebaran yang meningkat, kita masih meninggalkan sejumlah kelompok penduduk tanpa vaksin COVID-19," ujar Ryan menegaskan.

    Dari sekian banyak negara di dunia, Ryan paling khawatir dengan kondisi Afrika. Meski jumlah kasus COVID-19 di sana naik dua kali lipat, angka vaksinasi di sana masih sangat-sangat kecil untuk meresponnya. Adapun tren kenaikan jumlah kasus beberapa di antaranya ada di Namibia, Sierra Leone, Liberia, dan Rwanda.

    Sebagai catatan, varian Delta COVID-19 adalah jenis virus yang berasal dari India. Varian tersebut pertama kali terdeteksi padai Oktober 2020, ketika jumlah kasus di India naik berkali-kali lipat dan menaruhnya di posisi kedua negara paling terdampak COVID-19. Sebelumnya, posisi itu dipegang Brasil. Sekarang, ada 29,8 juta kasus dan 385 ribu kematian akibat COVID-19 di India.

    Selain varian Delta, ada tiga varian lain yang sudah dipastikan oleh WHO. Ketiganya adalah varian Alpha, Beta, dan Gamma. Varian Alpha berasal dari Inggris, terdeteksi pada September 2020. Varian Beta dari Afrika Selatan, terdeteksi pada Mei 2020. Sementara itu, untuk Gammar, terdeteksi di Brasil pada November 2020. 

    Baca juga: Covid-19 Varian Delta Menyebar di 80 Negara, Punya Gejala yang Berbeda

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.