Joe Biden dan Putin Bertemu, Bahas Senjata Hingga Keamanan Siber

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS Joe Biden berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin saat pertemuan bilateral AS-Rusia di Villa La Grange di Jenewa, Swiss, 16 Juni 2021. Sputnik/Mikhail Metzel/Pool via REUTERS

    Presiden AS Joe Biden berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin saat pertemuan bilateral AS-Rusia di Villa La Grange di Jenewa, Swiss, 16 Juni 2021. Sputnik/Mikhail Metzel/Pool via REUTERS

    TEMPO.CO, - Presiden Amerika Serikat Joe Biden untuk pertama kalinya sejak ia dilantik bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam pertemuan di Jenewa, Swiss, kemarin, kedua pemimpin sepakat mengadakan pembicaraan tentang pengendalian senjata, keamanan siber, dan mengembalikan duta besar masing-masing ke pos mereka.

    Vladimir Putin menggambarkan pertemuan tersebut sebagai sesuatu yang konstruktif. "Tidak ada permusuhan," katanya dikutip dari Al Jazeera, Kamis, 17 Juni 2021. Adapun Biden menyebut pertemuan itu hal yang positif.

    Putin mengatakan Moskow dan Washington akan memulai diskusi tentang kemungkinan perubahan pada perjanjian pengendalian senjata New START setelah berakhir pada 2026. Ia menuturkan kedua negara bertanggung jawab atas stabilitas strategis nuklir.

    Ditandatangani pada 2010, perjanjian New START membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis, rudal, dan pembom yang dapat dikerahkan Rusia dan Amerika Serikat.

    Selain itu, Putin menjelaskan Rusia telah memberikan informasi lengkap kepada AS tentang serangan siber dan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk memulai konsultasi tentang keamanan siber.

    Biden mengatakan kedua belah pihak telah sepakat untuk berdiskusi lebih lanjut tentang menjaga jenis infrastruktur vital tertentu dari serangan siber. Ada 16 infrastruktur, menurut dia, yang harus dilarang untuk serangan siber termasuk sektor energi dan air.

    Menurut Biden, mereka akan mengadakan pembicaraan tambahan tentang pengejaran para penjahat yang melakukan serangan ransomware.

    Seperti diketahui, serangan ransomware terjadi di salah satu operator pipa terbesar di AS pada bulan lalu hingga memaksa penutupan pasokan bahan bakar ke sebagian besar Pantai Timur selama hampir sepekan. Serangan ini diduga dilakukan oleh kelompok kriminal Rusia. Rusia tidak bekerja sama dengan investigasi kriminal ransomware dan tidak mengekstradisi tersangka ke AS.

    Baca juga: Putin Akui Hubungan Rusia dengan Amerika Berada pada Fase Terburuk

    Sumber: AL JAZEERA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.