Cina Minta NATO Setop Menyebutnya Sebagai Ancaman Global

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bendera Republik Rakyat Cina dan bendera AS berkibar di tiang lampu di sepanjang jalan Pennsylvania Avenue dekat Capitol AS selama kunjungan kenegaraan Presiden China Hu Jintao, di Washington, DC, Amerika Serikat, 18 Januari 2011.[REUTERS/Hyungwon Kang]

    Bendera Republik Rakyat Cina dan bendera AS berkibar di tiang lampu di sepanjang jalan Pennsylvania Avenue dekat Capitol AS selama kunjungan kenegaraan Presiden China Hu Jintao, di Washington, DC, Amerika Serikat, 18 Januari 2011.[REUTERS/Hyungwon Kang]

    TEMPO.CO, Jakarta - Perwakilan diplomatik Cina untuk Uni Eropa pada Selasa meminta NATO untuk berhenti membesar-besarkan teori ancaman Cina setelah para pemimpin kelompok G7 menyebut Cina sebagai ancaman nasional baru.

    Pada Senin, para pemimpin NATO mengambil langkah lebih tegas terhadap Cina melalui komunike pertemuan antara Presiden AS Joe Biden dengan sekutu NATO.

    "Ambisi dan perilaku tegas Cina menghadirkan tantangan sistemik bagi tatanan internasional berbasis aturan dan area yang relevan dengan keamanan aliansi," kata para pemimpin NATO, dikutip dari Reuters, 15 Juni 2021.

    Presiden AS yang baru telah mendesak rekan-rekan pemimpin NATO-nya untuk melawan otoritarianisme Cina dan kekuatan militer yang meningkat.

    Dari kiri ke kanan: Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Presiden Dewan Eropa Charles Michel, Presiden AS Joe Biden, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Perdana Menteri Italia Mario Draghi, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Kanselir Jerman Angela Merkel berpose untuk foto bersama di KTT G7, di Carbis Bay, Inggris, 11 Juni 2021. [Patrick Semansky/Pool via REUTERS]

    Anggota aliansi trans-Atlantik yang bertemu di Brussels pada hari Senin mengutip disinformasi, kerja sama militer Cina dengan Rusia dan perluasan cepat persenjataan nuklir Cina sebagai bagian dari ancaman, menurut komunike NATO, Financial Times melaporkan.

    "Pernyataan NATO memfitnah perkembangan damai Cina, salah menilai situasi internasional, dan menunjukkan mentalitas Perang Dingin," tulis respons Cina yang diunggah di situs web perwakilan Cina untuk UE.

    Cina selalu berkomitmen untuk pembangunan damai, katanya.

    "Kami tidak akan menimbulkan 'tantangan sistemik' kepada siapa pun, tetapi jika ada yang ingin mengajukan 'tantangan sistemik' kepada kami, kami tidak akan tetap acuh tak acuh," tambahnya.

    Komunike NATO menunjukkan semakin memanasnya hubungan antara barat dan Cina, yang telah memburuk dalam 18 bulan sejak negara-negara NATO terakhir bertemu.

    Komunike dari pakta militer era perang dingin berusia 72 tahun mengikuti garis yang lebih kuat dari KTT G7 akhir pekan, ketika klub negara-negara kaya mengkritik Cina atas hak asasi manusia, ketimpangan perdagangan, dan kurangnya transparansi mengenai asal-usul pandemi virus corona.

    NATO mengatakan akan membangun dialog konstruktif dengan Cina jika memungkinkan, termasuk tentang perubahan iklim.

    Pernyataan NATO mencerminkan upaya pemerintahan Joe Biden untuk memobilisasi sekutu Atlantik melawan Cina.

    Baca juga: NATO Minta Qatar untuk Latih Pasukan Afganistan Setelah Penarikan Pasukan Asing

    REUTERS | FT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.