Cina Sebut G7 Melakukan Manipulasi Politik untuk Sudutkan Negaranya

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis Oxfam mengenakan kepala papier mache yang menggambarkan para pemimpin G7 bersantai di pantai saat aksi protes iklim di Pantai Swanpool dekat Falmouth, selama KTT G7, di Cornwall, Inggris, 12 Juni 2021. REUTERS/Phil Noble

    Aktivis Oxfam mengenakan kepala papier mache yang menggambarkan para pemimpin G7 bersantai di pantai saat aksi protes iklim di Pantai Swanpool dekat Falmouth, selama KTT G7, di Cornwall, Inggris, 12 Juni 2021. REUTERS/Phil Noble

    TEMPO.CO, Jakarta - Cina merespon pernyataan negara anggota G7 perihal Xinjiang, Laut Cina Selatan, Taiwan, Hong Kong, serta COVID-19. Dalam pernyataan terbaru, Pemerintah Cina menuduh apa yang dilakukan oleh anggota G7 adalah manipulasi politik untuk menyudutkan negaranya. Selain itu, Cina juga menyebutnya sebagai upaya intervensi.

    "Negara anggota G7 memanfaatkan Xinjiang dan isu-isu lainnya untuk melakukan manipulasi politik dan mengintervensi urusan internal Cina. Kami menentang hal tersebut," ujar Kedutaan Besar Cina di Inggris, dikutip dari Channel News Asia, Senin, 14 Juni 2021.

    Cina melanjutkan dengan menyatakan pernyataan-pernyataan G7 tidak berdasar, rumor, dan sebuah kebohongan.

    Sebagai contoh, soal pelanggaran HAM di Xinjiang di mana 1 juta warga Uighur melakukan kerja paksa di kamp konsentrasi, Cina menganggap hal itu sah-sah saja ia lakukan. Mereka bahkan berdalih hal itu mereka lakukan untuk menghabisi ekstrimisme Islam.

    Sementara itu, soal asal usul COVID-19, Cina menyatakan kesetujuannya bahwa segala investigasi harus dilakukan secara terbuka, transparan, objektif, dan saintifik. Namun, Cina tidak memberikan persetujuan soal investigasi baru di Wuhan.

    Dari kiri ke kanan: Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Presiden Dewan Eropa Charles Michel, Presiden AS Joe Biden, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Perdana Menteri Italia Mario Draghi, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Kanselir Jerman Angela Merkel berpose untuk foto bersama di KTT G7, di Carbis Bay, Inggris, 11 Juni 2021. [Patrick Semansky/Pool via REUTERS]

    "Situasi pandemi saat ini masih berbahaya di seluruh dunia. Upaya pelacakan perlu dilakukan oleh para peneliti global secara bersama-sama dan tidak dipolitisir," ujar Pemerintah Cina, via Kedutaan Besar di Inggris, menegaskan.

    Dalam KTT G7 yang berlangsung di Cornwall, Inggris, isu Cina memang memegang peranan besar. Semua negara anggota G7 sepakat bahwa menguatnya pengaruh Cina perlu ditanggapi serius. Adapun untuk merespon penguatan itu, mereka membahas beberapa isu sensitif seperti yang telah disebutkan sebelumnya seperti COVID-19, HAM, dan Laut Cina Selatan.

    Menguatnya pengaruh Cina sendiri, yang menjadikannya salah satu pemain besar di level global, dianggap berbagai pihak sebagai salah satu event geopolitik yang berdampak signifikan. Beberapa menyamakannya dengan kejatuhan Uni Soviet di tahun 1991 yang mengakhiri Perang Dingin.

    Amerika adalah salah satu negara yang vokal memperingatkan ancaman Cina. Presiden Amerika Joe Biden pun menyebut Cina sebagai kompetitor utama dan kompetitor strategis. "Saya telah bersumpah untuk mengkonfrontir permainan ekonomi dan mengakhiri pelanggaran Ham," ujar Joe Biden beberapa waktu lalu, sebelum G7.

    Baca juga: Negara G7 Desak Cina Kooperatif Soal Investigasi Asal Usul COVID-19

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.