Inggris Masih Pikir-pikir Cabut Lockdown

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berbicara di luar Downing Street Nomor 10 setelah sembuh dari penyakit virus corona (COVID-19), di London, Inggris 27 April 2020. Johnson tiba kembali di Downing Street pada hari Minggu (26 April).[Pippa Fowles / 10 Downing Street / Handout via REUTERS]

    Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berbicara di luar Downing Street Nomor 10 setelah sembuh dari penyakit virus corona (COVID-19), di London, Inggris 27 April 2020. Johnson tiba kembali di Downing Street pada hari Minggu (26 April).[Pippa Fowles / 10 Downing Street / Handout via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada Rabu, 2 Juni 2021, mengumumkan pihaknya mungkin akan berhati-hati dalam mencabut aturan pencegahan penyebaran wabah virus corona (lockdown). Pasalnya, saat ini masih belum jelas bagaimana melindungi populasi dari pandemi virus corona.   

    Inggris berencana mencabut lockdown pada akhir Juni 2021. Namun Perdana Menteri Johnson memperingatkan pada penyebaran varian baru Covid-19 jenis B.1.617.2., yang terdeteksi di India. Kondisi ini bisa menggagalkan rencana Inggris yang ingin mengakhiri lockdown persisnya pada 21 Juni 2021.

    Orang-orang mengantre di luar toko Tesco, di tengah penyebaran penyakit virus corona (COVID-19), ketika pembatasan baru mulai berlaku, di London, Inggris, 21 Desember 2020. [REUTERS / Hannah McKay]

    Pada Rabu, 2 Juni 2021, Perdana Menteri Johnson mengatakan data saat ini tidak memperlihatkan sinyalemen kalau Pemerintah Inggris harus mengulur waktu untuk mencabut lockdown. Namun saat yang sama, Johnson tidak berani berjanji 21 Juni lockdown Inggris pasti akan dicabut.

    “Saya belum bisa berkaca pada data saat ini. Itu artinya, kita belum bisa mengambil langkah keempat atau membuka lockdown pada 21 Juni 2021. Kita harus berhati-hati,” kata Johnson.

    Menurut Johnson, yang harus difokuskan saat ini adalah sejauh mana program imunisasi massal cukup melindungi masyarakat Inggris, khususnya lansia dan orang-orang yang rentan terhadap varian baru Covid-19.  Johnson waswas data masih ambigu.

    Dia menambahkan, telah melakukan sejumlah pertemuan hampir setiap hari untuk mengevaluasi data dengan masukan dari para ilmuwan. Arahan dari sejumlah ilmuwan menyebut mereka masih memerlukan data soal dampak varian baru Covid-19.

    Baca juga: Menkes Inggris Bantah Tudingan Mantan Penasihat Boris Johnson Soal COVID-19

           

    Sumber: Reuters


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.