Saham Produsen Mainan Naik Akibat Kebijakan Tiga Anak Cina

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  •  Seorang guru membantu murid-muridnya belajar tentang tanaman di sebuah taman kanak-kanak di Changsha, Provinsi Hunan, Cina, 2 September 2020. Taman kanak-kanak tersebut menumbuhkan kesadaran anak-anak untuk menghargai makanan sejak usia dini dan membantu mereka membentuk kebiasaan makan yang baik. Xinhua/Chen Zeguo

    Seorang guru membantu murid-muridnya belajar tentang tanaman di sebuah taman kanak-kanak di Changsha, Provinsi Hunan, Cina, 2 September 2020. Taman kanak-kanak tersebut menumbuhkan kesadaran anak-anak untuk menghargai makanan sejak usia dini dan membantu mereka membentuk kebiasaan makan yang baik. Xinhua/Chen Zeguo

    TEMPO.CO, Jakarta - Langkah Cina memperbolehkan satu keluarga untuk memiliki tiga anak direspon positif oleh pasar kebutuhan anak-anak. Menurut laporan Reuters, nilai saham produsen mainan, popok, serta makanan anak-anak mengalami peningkatan sejak Cina melonggarkan kebijakan Keluarga Berencananya (KB).

    Salah satu produsen mainan yang sahamnya naik akibat kebijakan terbaru cina adalah Goldlok Holdings (Guangdong). Saham mereka naik ke batas 10 persen. Hal senada dialami oleh produsen perlengkapan balita Jinfa Labi Maternity & Baby Articles dan produsen susu formula Beingmate Co.

    Manajer Hedge Fund yang berbasis di Beijing, Hu Yunlong, menyakini kenaikan nilai saham ini diakibatkan spekaulasi jangka pendek. Menurutnya, tidak bakal terjadi perubahan fundamental akibat kebijakan tiga anak Cina.

    "Ini karena spekulasi saja," ujarnya, dikutip dari Reuters, Selasa, 1 Juni 2021.

    Penasihat Investasi dari Guosheng Securities, Xu Qi, menyarakan investor untuk terus memantau perkembangan dari kebijakan Keluarga Berencana Cina. Menurutnya, dampaknya akan lumayan luas, hingga ke produsen-produsen garmen juga karena mereka bisa membuat pakaian bayi.

    Secara umum, kebijakan tiga anak Cina ditanggapi skeptis oleh warga, akademisi, dan ekonom. Menurut mereka, kebijakan tersebut tidak akan menggenjot angka kelahiran di CIna. Sebab, problem utama dari menuanya populasi Cina bukanlah boleh atau tidaknya memiliki anak lebih dari satu, tetapi tingginya biaya hidup yang membuat pasangan ragu punya anak.

    Salah satu yang beranggapan seperti itu adalah Hao Zhou, ekonom senior dari Commerzbank. Ia berkata, jika KB dilonggarkan menjadi tiga anak bisa meningkatkan angka kelahiran, maka hal itu seharusnya sudah terjadi sejak 2016. Pada 2016, Cina melonggarkan kebijakan satu anak per keluarga menjadi dua anak.

    "Lagipula, siapa yang mau punya tiga anak? Pasangan muda saja maksimal hanya sanggup dua anak. Isu mendasarnya adalah biaya dan tekanan hidup yang terlalu tinggi," ujar Zhou, dikutip dari Reuters.

    Administrasi Presiden Xi Jinping, per berita ini ditulis, belum memberikan komentar atas reaksi yang beragam terhadap kebijakan tiga anak Cina.

    Baca juga: Mayoritas Warga Cina Tidak Terpikir Punya Tiga Anak Meskipun Diperbolehkan

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.