Mayoritas Warga Cina Tidak Terpikir Punya Tiga Anak Meskipun Diperbolehkan

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak-anak melihat serangga saat mengunjungi Museum Entomologi Shanghai di Shanghai, Cina, 24 Agustus 2020. Selama Festival Sains Shanghai yang berlangsung dari 23-29 Agustus, Museum Entomologi Shanghai akan menyuguhkan siaran langsung daring (livestreaming) tentang sains, pengalaman interaktif, dan berbagai kegiatan bertema lainnya kepada publik. Xinhua/Zhang Jiansong

    Anak-anak melihat serangga saat mengunjungi Museum Entomologi Shanghai di Shanghai, Cina, 24 Agustus 2020. Selama Festival Sains Shanghai yang berlangsung dari 23-29 Agustus, Museum Entomologi Shanghai akan menyuguhkan siaran langsung daring (livestreaming) tentang sains, pengalaman interaktif, dan berbagai kegiatan bertema lainnya kepada publik. Xinhua/Zhang Jiansong

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelonggaran kebijakan Keluarga Berencana (KB) oleh Pemerintah Cina tidak disambut antusias oleh warga. Menurut survei terbaru dari media milik pemerintah, Xinhua, mayoritas warga tidak pernah terpikir untuk memiliki tiga anak, baik diperbolehkan maupun tidak.

    Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Cina memperbolehkan warganya untuk memiliki tiga anak per keluarga Juni ini. Harapannya, hal tersebut bisa menggenjot angka kelahiran yang menurun beberapa tahun terakhir. Ini adalah langkah kedua dari Cina yang pada 2016 memperbolehkan satu keluarga memiliki maksimum dua anak.

    "Tidak pernah memikirkan punya tiga anak," ujar 29 ribu dari 31 ribu responden yang ditanyai oleh Xinhua, dikutip dari kantor berita Reuters, Senin, 31 Mei 2021.

    Dari 2000 responden yang tersisa, reaksi yang diberikan terpecah menjadi tiga. Ketiganya adalah "siap memiliki tiga anak", "ada di dalam agenda", serta "ragu karena banyak hal harus dipertimbangkan".

    Lucunya, survey keluarga berencana tersebut tidak lagi dipublikasikan oleh Xinhua. Menurut laporan Reuters, Xinhua telah menghapus hasil survei yang mereka publikasikan lewat media sosial Weibo itu.

    Meski hasil survei sudah tidak bisa lagi dilihat, perbincangan tentang pelonggaran KB masih berlangsung di media sosial. Beberapa mengatakan biaya hidup yang tinggi adalah penyebab utama kenapa warga Cina ragu untuk memiliki anak yang berujung pada rendahnya angka kelahiran.

    Menurut data Cina satu dekade terakhir, rata-rata jumlah anak per satu perempuan adalah 1,3.

    "Saya bersedia untuk memiliki tiga anak apabila pemerintah memberikan saya 5 Juta Yuan Cina (Rp11 miliar)," ujar salah satu warga Cina di Weibo.

    Reaksi warga serupa dengan reaksi para pakar. Sejumlah pakar pesimis pelonggaran yang diterapkan administrasi Presiden Xi Jinping bakal membawa perubahan. Menurut mereka, permasalahan angka kelahiran bukan pada jumlah yang dibatasi, tetapi pada biaya hidup yang tinggi, apalagi untuk menghidupi anak.

    "Warga harus memikirkan biaya kegiatan ekstrakurikuler, makanan, liburan, dan sebagainya. Biaya hidup secara cepat akan naik (begitu ada anak). Menaikkan batas kelahiran anak tidak akan mengubah hal tersebut," ujar Li Yifei, sosiolog dari NYU Shanghai, Cina.

    Baca juga: Cina Longgarkan Program KB, Perbolehkan Satu Keluarga Punya Tiga Anak

    ISTMAN MP | REUTERS



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.