Kementerian India Minta Perusahaan Media Sosial Hapus Kata Varian India

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasien Covid-19 menggunakan oksigen di dalam

    Pasien Covid-19 menggunakan oksigen di dalam "Oxygen on Wheel" di Bangalore, India, 13 Mei 2021. Xinhua/Str

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Teknologi Informasi (TI) India menyurati semua perusahaan media sosial untuk meminta mereka menghapus konten apa pun yang mengacu pada "varian Covid-19 India", menurut surat yang dikeluarkan pada hari Jumat.

    Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan pada 11 Mei bahwa varian virus corona B.1.617, yang pertama kali diidentifikasi di India tahun lalu, diklasifikasikan sebagai varian yang menjadi perhatian global.

    Pemerintah India sehari kemudian mengeluarkan pernyataan yang mengatakan laporan media yang menggunakan istilah "Varian India" tidak berdasar, mengatakan WHO telah mengklasifikasikan varian tersebut hanya sebagai B.1.617.

    Dikutip dari Reuters, 22 Mei 2021, dalam sebuah surat kepada perusahaan media sosial pada hari Jumat, kementerian TI meminta perusahaan untuk "menghapus semua konten" yang menyebutkan atau menyiratkan "varian India" dari virus corona.

    "Ini benar-benar SALAH. Tidak ada varian Covid-19 yang secara ilmiah dikutip oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). WHO tidak mengaitkan istilah 'Varian India' dengan varian B.1.617 dari virus corona dalam laporannya," kata surat itu, yang tidak dipublikasikan.

    Sumber senior pemerintah India mengatakan pemberitahuan itu dikeluarkan untuk mengirim pesan keras dan jelas bahwa penyebutan "varian India" seperti itu menyebarkan miskomunikasi dan merusak citra negara.

    Kementerian TI belum berkomentar terkait bocornya surat tersebut.

    Di seluruh dunia, varian virus corona secara umum telah dirujuk oleh dokter dan pakar kesehatan berdasarkan tempat identifikasi virus tersebut, termasuk varian Afrika Selatan dan Brasil.

    Seorang eksekutif media sosial mengatakan akan sulit untuk menghapus semua konten menggunakan kata tersebut karena akan ada ratusan ribu konten seperti itu. "Langkah seperti itu akan mengarah pada sensor berbasis kata kunci di masa mendatang," katanya.

    Pemerintah India menghadapi kritik atas penanganannya terhadap pandemi virus corona, dengan Perdana Menteri Modi dan otoritas negara disalahkan karena tidak mempersiapkan dengan baik untuk gelombang kedua Covid-19 yang saat ini sedang berlangsung.

    India memiliki penghitungan kasus Covid-19 tertinggi kedua di dunia dan telah melaporkan sekitar 250.000 infeksi dan 4.000 kematian setiap hari.

    Baca juga: Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka Mulai Kehabisan Stok Vaksin Covid-19

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.