Diprotes Warga, Presiden Kolombia Tarik Kebijakannya Soal Reformasi Pajak

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden baru Kolombia, Ivan Duque, memberikan sambutan setelah terpilih sebagai presiden di Bogota, Kolombia, 17 Juni 2018. Pada 27 Mei lalu, Duque memenangi pilpres ronde pertama dengan meraih 39 persen suara. Kemudian ia harus berhadapan dengan Petro pada babak selanjutnya. REUTERS/Nacho Doce

    Presiden baru Kolombia, Ivan Duque, memberikan sambutan setelah terpilih sebagai presiden di Bogota, Kolombia, 17 Juni 2018. Pada 27 Mei lalu, Duque memenangi pilpres ronde pertama dengan meraih 39 persen suara. Kemudian ia harus berhadapan dengan Petro pada babak selanjutnya. REUTERS/Nacho Doce

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Kolombia Ivan Duque membatalkan niatannya untuk melakukan reformasi pajak (Tax Reform). Keputusan ia ambil usai mendapat ribuan warga Kolombia berunjuk rasa, menentang keras kebijakan tersebut, selama berhari-hari.

    Duque melakukan pembatalan tersebut via video. Dirilis pada Ahad kemarin waktu setempat, Ia meminta Kongres Kolombia untuk menarik rancangan regulasi tax reform dari administrasinya.

    "Saya meminta Kongres Kolombia untuk menarik regulasi yang telah diajukan oleh Kementerian Keuangan dan sesegera mungkin proses regulasi baru yang merupakan hasil dari konsensus agar tak tercipta ketidakpastian," ujar Duque, Ahad, dikutip dari Al Jazeera, 2 Mei 2021.

    Tax Reform rancangan Ivan Duque diprotes keras oleh warga karena dirasa membebani warga. Salah satunya adalah soal perluasan pajak untuk pemilik usaha dan warga. Selain itu, ada juga soal peningkatan pajak pembelian untuk beberapa barang dan makanan.

    Duque berdalih Tax Reform tersebut dibutuhkan untuk menstabilkan perekonomian Kolombia mulai dari menjaga rating kredit hingga mendanai kebijakan-kebijakan sosial. Namun, warga berbeda pandangan dengannya. Menurut warga, Tax Reform itu tak tepat dikeluarkan saat ini ketika para warga dan pemilik usaha terdampak oleh pandemi COVID-19.

    "Itu namanya mencuri dari kami yang susah sementara mereka memberikan hasilnya kepada yang kaya," ujar salah satu penentang Tax Reform Kolombia, Sol Martinez, guru di Bogota.

    Berbagai serikat pekerja, organisasi, dan anggota parlemen merayakan keputusan Duque sebagai sebuah kemenangkan. Mereka kemudian memukul panci dan pot di mana merupakan selebrasi khas Kolombia bernama Cacerolazos.

    "Ini berkat kelompok muda, organisasi sosial, dan mobilisasi warga yang telah menghadapi maut untuk mengalahkan pemerintah. Semoga warga tidak mengemas ulang kebijakan itu. Kami tak bisa ditipu," ujar senator kiri di Kolombia, Ivan Cepeda, mengingatkan bahwa ada enam warga tewas dalam menentang Tax Reform Kolombia. 

    Menurut laporan Al Jazeera, Duque tidak akan sepenuhnya membatalkan Tax Reform. Ia tetap menyakininya perlu. Sejumlah perubahan akan ia lakukan berdasarkan masukan dari berbagai pelaku usaha dan organisasi masyarakat. Beberapa masukan yang ia terima untuk Tax Reform Kolombia mulai dari peningkatan pajak pendapatan untuk mereka yang kaya serta pajak sementara untuk bisnis dan dividen.

    Baca juga: Lansia Usia 104 Tahun di Kolombia, 2 Kali Selamat dari Virus Corona

    ISTMAN MP | AL JAZEERA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pertanyaan Ganjil dalam TWK yang Mesti Dijawab Pegawai KPK

    Sejumlah pertanyaan yang harus dijawab pegawai KPK dalam TWK dinilai nyeleneh, mulai dari hasrat seksual hingga membaca doa qunut dalam salat.